Saturday, 9 March 2013

menyambut oktoberfest!

Apa ku bilang.., tak terasa sekarang sudah mau pertengahan bulan maret!
padahal awal tahun ini mau lebih rajin, tapi janji tinggal janji..
Semester musim dingin sudah lewat pula, pameran Diplom atau Tugas Akhir di kampus ADBK München berlalu sudah, tapi musim dingin masih saja mengelayuti langit kota ini.

 Namun sebagian penduduk kota ini, terutama yang gencar berpromosi pariwisata, padahal musim semi saja masih malas menampakkan batang hidungnya, mereka sudah menghitung mundur pelaksanaan Oktoberfest. Telah kurang dari 200 hari katanya, pesta Bier yang setiap tahun pada akhir september menjadi atraksi tersendiri di kota ini. Pemabuk alias orang teler di mana-mana, terutama di arena sekitar Oktoberfest. Para pemulung pun berdatangan dari segala penjuru eropa mengumpulkan botol untuk dijadikan euro.

Walaupun masih dingin menggigit, yang penting tetap optimis maju ke depan, dan siap-siap untuk menghabiskan uang di tenda Bier yang spesial khusus dibuat untuk berpesta pora!berjingkrak-jingkrak di atas meja sambil ikuti suara penyanyi yang ya ampun brebegnya..
Sekali lagi kekecewaan karena kelewatan satu bulan tak membuatku patah arang, tetap semangat tak ada ruginya!
s.m.

Thursday, 31 January 2013

waktu, semakin tua semakin berlari!


Tak terasa sudah lewat winter semester, pun hari ini adalah awal bulan kedua tahun ini..
Jah.. semakin tua semakin berlari rasanya waktu...
saatnya pula melunasi utang-utang, foto di atas adalah catatan penggunaan kertas di studio Lithographie, catatan yang mirip bon di warung itu dibuat sendiri oleh yang bersangkutan, nanti pada akhir semester pembayarannya, sistem kejujuran ternyata bisa berjalan!


Tampak dari luar gedung baru ADBK München ketika dingin masih mencekam! Di gedung itulah studio-studio berada, ada Lithographie, cetak tinggi, cetak dalam, fotografie, komputer, sablon, gambar model, teknik warna, dst..


Bukan mentang-mentang bulan februari, tapi ini hiasan yang umum pada oktober fest!
mungkin karena minggu ini cuaca di kota ini begitu cerahnya, bagi sedikit cahaya matahari tak ada salahnya.. berbagi cinta pada sesama juga tak ada kelirunya!

s.m.

Wednesday, 23 January 2013

studio Lithographie

Setiap 2 kali seminggu berkunjunglah aku ke studio Lithographie. Dulu pas main ke FSRD ITB sempat lihat seniman "Dimas" (kala itu masih mahasiswa) lagi gosok-gosok batu litho.. wah aku nggak kepikiran bakalan mau kerja keras kayak gitu untuk berkarya. eh ternyata aku kena batunya juga.

 Inilah dia deretan butiran pasir, pemakaiannya mulai dari yang sebelah kiri yng paling kasar.

 Butir-butir pasir ditaburlah ke atas batu yang telah dibasahi. Yang perlu diingat perut kita harus diisi dulu sebelum mulai menggosok, biar kuat dan semangat olahraganya!

Batu versus batu adalah cara yang paling tradisonal menggosok batu sejak jamannya Alois Senefelder, sang penemu teknik cetak datar ini, sekitar 1796-1798 silam.

 Alat berat menanti percetakan.. ember hitam isi air biasa yang tidak bau (walaupun tulisannya probau), prinsip kerja cetak datar ini adalah karena air dan minyak memang tak bisa bersatu..

Selesai kerja keras gosok-gosok batu, angkat batu, cetak karya dengan mesin yang katanya punya daya tekan sekitar 5 ton, cuci mata dulu keluar jendela studio yang selalu penuh dengan batu ini..

s.m

Friday, 18 January 2013

dalam sebuah Seminar

Mengenang peritiwa satu tahun yang lalu,  ketika aku masih kuliah sejarah seni di Universitas Trier. Pada sebuah seminar yang aku ikuti tentang Adolph Menzel, seniman jerman yang banyak membuat karya tentang industrialisasi dan kaisar Friedrich der Große, tokoh yang dianggap bisa menyatukan Jerman pada jamannya, yang kebetulan tahun itu juga diperingati 100 tahun kelahirannya, ada seorang Mahasiswi peserta Seminar, pas hari ulang tahun si kleiner Fritz bawa snack dengan bendera kertas kecil berlogo burung Adler hitam, mirip burung Garuda, yang ditancapkan di atasnya, sebagai menu pembuka seminar hari itu...
sehr süß!
Tapi sebenarnya si Friedrich der große ini lebih terkenal dengan program pertaniannya yaitu budidaya Kentang! sejak itu kentang menjadi makanan yang penting untuk orang jerman. Oleh karena itu pula si kaisar yang kontroversial ini disebut pula kaisar kentang. Di atas makamnya di Postdam selalu ditaruh butiran kentang untuk menghormati jasa beliau.
Bicara tentang Friedrich der Große tak bisa lepas dari seniman Adolph Menzel. Seniman yang sejak umur belia 12 tahun telah mampu mandiri menghidupi keluarganya dengan karya grafisnya.
s.m.

Saturday, 12 January 2013

Hai Ahoi Halloooo..
Akhirnya saya kembali ke München lagi, setelah setahun mengembara di kota Karl Marx, Trier.
Tahun ini 2013, tahun yang menjanjikan..
: janji untuk rajin berkarya, janji rajin posting Blog, janji bikin sesuatu yang baru lagi...
Aah semoga semangat ini bukan hanya sekedar ngobor Blarak!
salam metal!
s.m

Wednesday, 2 May 2012

selamat hari raya!


Hari ini adalah selasa yang istimewa, tanggal 1 mei karenanya. Di jerman juga di beberapa negara yang lain setiap tanggal 1 mei telah sejak lama diakui dan ditetapkan sebagai hari libur nasional pun international dan angka di kalender pasti tercetak merah. Hari inilah hari rayanya kelas pekerja. Untuk itu sudah seharusnya di negara kita tercinta Indonesia raya yang mayoritas penduduknya adalah dari kelas pekerja adalah wajar jika setiap 1 mei ditetapkan sebagai hari libur resmi nasional. Jika untuk mengakui satu hari saja sebagai harinya para buruh cukup ribet, mudah dibayangkan bagaimana kondisi kelas pekerja di bumi pertiwi yang kaya raya ini. Dengan terpaksa mereka mengais rejeki di negeri orang, yang terkadang tak ada perlindungan yang wajar, malah dimanfaatkan saudara sebangsa sendiri. Banyaknya kasus yang menimpa TKI menandakan belum optimalnya fungsi negara untuk melindungi warganya. Buruh yang berani bicara malah diintimidasi bahkan tak segan dihabisi nyawanya setelah memakai kekerasan ekonomi tak mempan. Sementara yang lain sengaja dibuat mengambang bingung, sehingga tak ada jalan lain selain menuruti kehendak kuasamodal yang dikabarkan sebagai takdir yang tak terelakan dari langit.

Setiap 1 mei kita kembali diingatkan bahwa ternyata keadaan masih belum memihak pada kelas pekerja, walaupun sudah tak separah seperti masa orde baru, tapi bagaimanapun setiap masalah harus dicarikan solusi. Perlu perjuangan untuk itu, setiap perjuangan butuh energi penggerak. Namun yang tak kalah penting adalah kemauan dari kelas pekerja sendiri, yang mempunyai kekuatan yang sesungguhnya, untuk menentukan kapan saatnya mereka ingin perubahan. Sudahkah kita, kelas pekerja tahu betul kekuatan posisi tawar yang kita miliki? Sudahkah kita, kelas pekarja terorganisir rapi seperti organisasi para pemilik modal?

Bicara soal pergerakan buruh tak akan bisa lepas dari keberadaan tokoh yang satu ini, adalah Karl Marx, tokoh yang kita kenal dengan jenggotnya yang sangat lebat. Sepak terjangnya bersama Friedrich Engels telah memicu revolusi proletar di eropa sebelum perang dunia pertama dan masih sangat berpengaruh sampai sekarang, bahkan di negara kita orang pun masih malu-malu untuk sekedar membicarakannya. Karl Marx masih dianggap hantu bagi sebagian kalangan, bahkan para pembacanya dianggap pengikut setan yang halal darahnya. Bernasib buruk diakhir hidupnya, mati di pembuangan jauh dari tempat kelahirannya. Tapi semangatnya terus menyala turun menurun sepanjang masa.

Kali ini aku mau ajak kawan-kawan sejenak untuk melihat kota kelahiran Mbah Jenggot ini. Trier nama kota itu sekarang, posisinya berada di pinggir sungai mosel dan berbatasan langsung dengan Luxemburg, adalah kota tertua yang dimiliki negara Jerman. Kota ini adalah salah satu pusat pemerintahan kekaisaran terakhir jaman romawi, yang pada tahun 284 masehi dibagi 4 wilayah pemerintahan. Tiga kota lainnya adalah Milan (Italia), Thessalonike (wilayah negara balkan) dan Nikomedia (Izmir, Turki).


Jejak-jejak peninggalan kejayaan jaman romawi masih sedikit banyak bisa kita saksikan. Salah satunya adalah Porta Nigra (Gerbang Hitam), yang dibangun pada tahun sekitar 180 masehi. Bangunan ini dulunya adalah pintu gerbang bagian utara kota Augusta Treverorum (nama kuno Trier). Selain sebagai jalur lalu lintas, juga merupakan tempat jebakan bagi musuh. Di tengah bangunan ini terdapat atrium yang di bagian atas dikelilingi balkon. Dari balkon tersebut para penjaga kota menumpahkan aspal cair yang panas mendidih ke rombongan pengacau atau penyerang yang mau memasuki wilayah kotapraja. Tidak heran jika batu kapur material utama banguan ini semakin legam warnanya, gara-gara terkena bekas cipratan aspal tir. Kemudian namanya pun berganti menjadi Porta Nigra alias gerbang hitam sejak jaman pertengahan. Secara fonetik kata Trier punya kemiripan dengan tir, entah ada hubungannya atau tidak perlu penelitian lebih lanjut.
  
Pada jaman pertengahan atau sering disebut sebagai jaman kegelapan di eropa, porta nigra menjadi bagian dari sebuah gereja, yang dibangun menempel dengan bangunan lama. Sekarang bangunan gerejanya sudah tak ada lagi, yang masih tersisa adalah bangunan asli gerbang yang tetap  kokoh berdiri sampai saat ini.
 

Porta Nigra menjadi saksi bisu jatuh bangunnya kota Trier serta masyarakatnya. Sejak jaman tak bersinyal kekaisaran romawi merambat ke jaman pertengahan yang didominasi gereja dan institusinya terus kemudian ke jaman reformasi kristen Martin Luther, terus invasi dari Perancis lewat Napoleon Bonaparte sampai revolusi proletar yang mengharu biru dunia eropa, kemudian dilanjutkan dengan dua babak perang dunia yang sampai akhirnya pada era modern sekarang jamannya aifon dan blekberi Porta Nigra si gerbang gosong itu tetap bisa tegap berdiri. walaupun pembangunannya tidak menggunakan teknologi yang modern. Keberadaannya seolah mau berteriak kepada siapa saja yang memandangnya: Jangan lupakan sejarah kawan dan belajarlah dari sana, kamu akan bisa bertahan dan mampu melewati masa-masa sulit yang menimpamu!!

Mengamati Porta Nigra yang kokoh menjulang tinggi, yang sejak tahun 1986 telah diakui sebagai warisan dunia oleh unesco dan sekarang menjadi maskot kebanggaan kota Trier, membuatku mau tak mau untuk membayangkan situasi jaman kuno dulu beserta orang-orangnya, tentu juga si kecil Karl Marx sebelum janggutnya tumbuh lebat, dia pasti pernah bermain-main dengan teman sebayanya di sekitar tempat ini. Masa lalu yang menarik untuk dibayangkan tapi mustahil dapat diulangi lagi.

Masih banyak jejak peninggalan jaman romawi di kota ini yang sangat menarik untuk dikabarkan, tapi tunggu sampai episode berikutnya.sm


Saturday, 10 September 2011

Praha episode 2


Kunjungan yang kedua kali ke Praha, kota tua yang unik dan menarik, lebih mempesona daripada Paris bahkan atau kota tua semarang, adalah teramat sangat istimewa!!



Aku bertemu kawan-kawan lama yang di satu tempat, yang pasti akan sulit untuk diulang lagi, terlebih kami bisa bertemu langsung dengan Pak Yono, salah satu dari sekitar 400 mahasiswa pada tahun 1965 dicabut paspornya oleh Orde baru yang benar-benar baru waktu itu.


Moment pun tak boleh terlewatkan!! apalagi generasi baru telah ikut beraksi...Aruna!


Jalan-jalan ke kota tua lagi adalah menu wajib apalagi cuaca bagus!


Maklum kota turis, berlagak jadi turis tak terlewatkan!


Trotoar yang sepi dari pedagang kaki lima tapi ramai batu rai berjejer rapi...


 Terminal bus floren yang sepi dari pedagang asongan dan calo tiket...


Pengamen pun tampaknya malu untk unjuk gigi di tempat ini...


Bus pun melenggang santai tanpa harus menunggu para timer yang berteriak kasih bocoran kalau bus yang lain mau nyundul!!



Akhirnnya cuma bisa berharap lagi bisa datang ke tempat ini lagi...

s.m