Showing posts with label gagak. Show all posts
Showing posts with label gagak. Show all posts
Monday, 2 March 2015
Apalah arti sebuah nama!
Sebenarnya bagian atas mau saya unggah foto karya lithographie, namun setelah beberapa kali dicoba gagal terus! paling tidak ini sekedar diskripsi karya litho kedua saya:
Karya lithografie ini saya cetak tahun 2012 di atas kertas bütten, dengan tinta hitam. Desainnya saya selesaikan dengan arang yang sudah berbentuk pensil, dengan teknik arsir halus semampunya. Sebuah sosok bertopeng yang menguasai bidang gambar menghadap ke arah kanan, bergaya batman, namun bertelinga tikus bukannya kelelawar, sedang berenang di lautan rumput. Sosok tersebut hanya terlihat kepala dan badan bagian atas. Mulutnya nampak tertawa, gigi-giginya yang rapi dipamerkannya. Sorot matanya sayu atau kosong seperti orang mabuk atau sedang hikmat mendengarkan cerita. Di atas kepala sosok tersebut ada simbol lingkaran kabut atau yang menandakan kalau sosok tersebut termasuk golongan orang suci, hampir mendekati sifat malaikat.
Seekor burung yang menyerupai burung gagak hinggap di telinga kirinya dengan kepala menghadap ke bawah, seolah burung tersebut sedang bercerita atau memberi kabar kepada sosok tersebut apa saja yang terjadi di belakangnya. Di lihat dari janggutnya yang berjenggot kemungkinan besar sosok tersebut adalah laki-laki. Pada topeng bagian atas mata sebelah kanan tergambar kilatan petir, seperti logo PLN. Walaupun bertelinga tikus tapi daun telinganya lebar sekali hampir mirip dengan tokoh kartun mickey mouse walt disney. Pada latar belakang ada sebuah pohon yang berjendela banyak tapi kecil-kecil apad batang pohon dengan lampu-lampu menyala pada ujung-ujung rantingnya. Di belakangnya lagi ada seorang yang sedang memunggungi kita, bercaping dan mengenakan baju putih garis kotak-kotak sedang membawa celurit, seperti sedang memburu sesuatu. Apakah orang bercaping tersebut sedang mencari sosok bertopeng? Di kejauhan nampak api sedang membara, telah terjadi kebakaran sepanjang horison! makin ke atas langit semakin gelap nan kelam! (begitulah kira-kira sedikkit diskripsi karya saya yang berjudul: Berenang, 2012)
Sedangkan yang di bawah ini adalah tulisan blog yang sesungguhnya:
Setiap orang dilahirkan tanpa nama.
Orang tua kita yang memberikan nama kita.
Orang tuanya orang tua kita yang memberi nama orang tua kita.
Kakeknya orang tua kita yang memberi nama kakek kita.
Orang tuanya kakek orang tua kita yang memberi nama kakek orang tua kita.
Begitulah seterusnya sampai tidak bisa terlacak lagi sejak kapan nenek moyang kita memberi dan menemukan nama untuk penanda.
Kalau riset silahkan, ini peluang bagus untuk disertasi dan promosi!
Foto karya ahirnya bisa diunggah juga setelah merubah formatnya menjadi tiff, nggak tahu juga format apa itu sebenarnya?
Labels:
apalah arti sebuah nama,
api,
batman,
bütten,
caping,
celurit,
cetak datar,
drawing,
gagak,
grafis,
lithographie,
mickey mouse,
PLN,
printmaking,
promosi,
riset,
seni,
tiff,
walt disney
Thursday, 26 November 2009
Cerita Tentang Gagak

Pertama keluar bandara Munich, aku begitu terkesan dengan burung gagak yang ada di sawah-sawah longitudinal di kanan-kiri jalan raya. Burung ini dalam bahasa Jerman disebut die Krähe, warnanya hitam kelam sekujur badan, suaranya serak-serak garing. Mereka banyak terdapat di mana-mana, di taman, kota, desa, di sawah-sawah, dan sebagainya. Sepertinya selain burung merpati yang memang sudah terkenal sebagai penghuni gedung-gedung di kota-kota wilayah Eropa, gagak juga akan menjadi trade mark.
Mereka bisa bertahan dalam suhu yang mengharuskan manusia membungkus seluruh badannya dengan jaket wool yang tebal. Mereka juga telah bisa beradaptasi dengan lingkungan yang telah dibentuk manusia.
Kata kawanku yang lahir dan besar di sini, burung gagak yang ada sekarang lebih banyak jumlahnya, bahkan tak terduga bisa sebanyak itu. Tahu sendiri jika musim dingin suhunya bisa minus...yang ya ampuuun dinginnya. Banyak sekali burung yang mulai berimigrasi ke Afrika ketika suhu di Eropa mulai dingin. Sementara itu butrung gagak tetap bertahan dengan segenap kecerdasannya untuk tetap survive.
Di kota kita bisa lihat burung gagak itu bisa dengan santai sekali berdekatan dengan manusia yang lalulalang di jalan-jalan seolah burung yang jinak. Dan memang orang disini tidak seperti di kampung halamanku yang senang berburu burung untuk dimakan. Jadi mungkin mereka gagak-gagak itu tahu manusia di sini tak akan mengganggunya.
Banyak cerita tentang begitu cerdasnya burung ini untuk survive. Pernah suatu kali orang memperhatikan ada gagak yang menjatuhkan biji-bijian yang keras dari atas ketinggian ke jalan raya supaya pecah kulitnya yang keras agar bisa dimakan isinya. Yang lebih membuat aku penasaran adalah cerita bahwa ada gagak yang menaruh biji-bijian itu di depan roda mobil yang berhenti saat lampu merah, setelah lampu hijau roda mobil akan melindas biji-bijian itu sehingga pecah kulit kerasnya. Sungguh menakjubkan...!
Pada jaman kuliah dulu ketika pertama kali lihat lukisan terakhir yang dibuat van gogh sebelum bunuh diri, ada perasaan seram sehubungan ada banyak burung hitam yang menurutku gagak sebagai simbol kematian. Di situ dilukiskan hamparan sawah kuning dengan dipenuhi burung-burung yang menyerupai gagak yang banyak sekali...apalagi ditambah dengan membaca sejarah hidup sang maestro yang tragis.
Persepsiku tentang sangarnya burung gagak sangat dipengaruhi oleh budaya dimana aku hidup. pada jaman dulu jika melihat burung gagak anak kecil harus segera sembunyi karena dikatakan burung gagak itu membawa-bawa nyawa orang yang telah mati. apalagi jika mendengar suaranya yang sangat menyeramkan untuk seorang anak kecil jaman dulu.
Ternyata lain lubuk lain belalang, penilaianku terkoreksi ketika hadir langsung menyaksikan banyaknya burung gagak yang ada di sini walaupun van gogh tidak hidup di Munich tapi paling tidak alam belanda tidak jauh beda. Jadi memang alam yang sebenarnya yang telah dilukis vincent van gogh yang pernah memotong telinganya karena jengkel tidak bisa digambarnya. Selain burung gagak kata kawanku di sini semakin banyak jenis burung yang dulu belum pernah terlihat berkeliaran di sini. Suatu keadaan yang sepertinya mustahil terjadi di Indonesia. Yang terjadi berjenis-jenis burung telah lama punah. Pada waktu masih kecil pun aku jarang sekali melihat burung gagak. Tapi masih beruntung aku masih sempat menyaksikan burung sikatan yang sering mencari makan di kandang-kandang ternak. Sekarang jangan harap lagi untuk bisa menyaksikan gerak lincahnya selain di kebun binatang.
Pada jaman dulu di Eropa orang yang ketahuan berburu tanpa ijin akan dipotong tangannya. dan yang punya ijin biasanya raja dan keluarganya saja...untung sekarang tidak sekejam itu aturannya. Pun masyarakatnya sudah semakin sadar sendiri bahwa burung-burung harus diberi hak hidup bebas. Ketika musim dingin, ketika segala macam makanan yang ada di alam telah habis atau susah didapatkan burung yang tidak ikut imigrasi ke afrika, orang-orang di sini menyediakan makanan burung yang di gantung di luar, biasanya pada ranting-ranting yang telah rontok habis daun-daunnya. Makanan burung itu dapat dibeli di supermarket yang berbentuk bulatan dalam kantong jaring bertali.
Na ja.. sebelum nanti kita di Indonesia semakin kehilangan banyak jenis burung. Sudah waktunya kita mengikuti apa yang dilakukan orang Eropa dengan membiarkan burung hidup dengan bebas.
Jangan lagi ada perburuan!
Sayangi burung sekarang juga!
Subscribe to:
Posts (Atom)