Showing posts with label orde baru. Show all posts
Showing posts with label orde baru. Show all posts

Sunday, 4 October 2015

Tutur Tinular

Sri Maryanto, 4 Kepala, 2000, Cat air di atas kertas

Hari ini setengah abad lampau sejauh yang aku dengar kabar burungnya, juga aku baca beberapa gelintir cerita yang sempat tertulis, suasana di jakarta sangat mencekam! bukan hanya di jakarta tapi di mana pun di seluruh wilayah indonesia, terutama di daerah di mana terdapat aktifis kiri berada. Antara bingung mau bertindak atau diam saja!

Dua kubu yang bisa diibaratkan minyak dan air sedang dalam gesekan. Mereka belum tahu apa yang akan terjadi selanjutnya bahkan tak akan pernah tahu kalau dari peristiwa 50 tahun silam masih membekas sampai generasi sekarang bahkan dikhawatirkan masih akan terus menghantui generasi masa mendatang, selama belum ada penjelasan dari pihak pemerintah yang berkuasa, bagaimana sebenarnya peristiwa yang ditutup-tutupi itu bisa terjadi.

Kepada kami terus diberitahukan bahkan terus menerus dipaksa menerima pengetahuan sepihak bahwa orang-orang kiri itu lah yang memberontak, menyiksa dengan kejam, memotong kemaluan, mencongkel bola mata, pesta sex dan yang terakhir menurutku doktrin paling sukses adalah mengelabuhi orang banyak adalah bahwa orang-orang komunis itu anti Tuhan!.

Berita tentang otopsi dari tim forensik pada mayat tentara yang dikeluarkan dari lobang sumur tua tak pernah sampai masuk ke pemikiran masyarakat, karena beberapa alasan diatas telah menutup semua akal sehat sehingga tak lain dan tak bukan segera bertindak menuntut balas, yang lebih kejam lagi. Ephoria amuk mendapatkan bahan bakarnya. Para pelaku pembantaian lupa diri kalau mereka adalah juga manusia bukan dari golongan hewan. Alasan yang klasik adalah lebih baik membunuh dahulu daripada dibunuh.

Pembantaian massal yang terjadi pada hari, bulan bahkan beberapa tahun berikutnya itu tak pernah dipelajari dalam sejarah resmi. Aku masih beruntung masih sering mendengar celoteh saksi mata yang mengatakan bahwa di sungai-sungai besar yang melintasi kampung-kampung terpencil itu tempat mengebumikan orang kiri atau yang dituduh sebagai kiri, jadi tempat itu sekarang menjadi angker, hati-hati nak!. Celotehan yang mungkin tidak secara sengaja malah akan terus menghidupkan sejarah secara lisan, bahwa dulu telah terjadi peristiwa yang besar dan membekas dalam ingatan massal, seperti sebuah dongeng tutur tinular yang terus hidup tanpa dituliskan, kecuali jika cerita itu sudah sangat membosankan. Namun perlawanan terhadap rasa takut akan terulangnya peristiwa itu terjadi secara alamiah digethok tularkan kepada generasi penerus, suasana menakutkan yang diteruskan sebagai peringatan.

Pengetahuan yang dicekokkan ke otak siswa sekolah dasar negeri inpres oleh sang pemenang sama sekali berbeda dengan pengetahuan yang didapat langsung dari lingkungan. Ada sesuatu yang aneh yang dulu tak terbantahkan namun tidak tahu mau bertanya kemana. Ada dua kenyataan yang berdampingan tapi tidak saling bersentuhan, seperti air dan minyak.

Akhirnya rezim Suharto hancur tapi belum lebur, sejak itu kabar tentang peristiwa kelam tersebut semakin santer dan terbuka. Belakangan aku baru tahu, ternyata banyak tokoh-tokoh pemikir bangsa legendaris, yang ironisnya tak hidup di jaman Gestok pun ikut dihilangkan, karena dianggap mengancam pengetahuan yang sudah diresmikan pemerintahan Orde Baru. Begitulah setelah Orde Reformasi yang basa basi membuka keran kebebasan bersuara, paling tidak masyarakat sudah diberikan peluang untuk melihat dengan kacamata seimbang peristiwa masa lalu yang mendasari tatanan sosial pemerintahan sekarang.

Sudah jatuh tertimpa tangga, begitulah kondisi PKI dan ormas-ormasnya waktu itu, sudah divonis bersalah, walaupun belum tentu benar, dikejar-kejar, diburukan dan dibinasakan, tetap saja tak ada ampun untuk anak cucunya. Siapa yang bertanggung jawab: aku kira semua bisa menjawab tapi tak mampu melakukan apa-apa selain mengeluh dan mengeluh, karena negara lah yang paling berkuasa melakukan itu semua. Aku pribadi setiap dengan kata Rezim konotasinya sungguh mengerikan sekali.

Besok, setiap tanggal 5 Oktober akan diperingati secara besar-besaran hari ABRI, yang akan mempertontonkan kekuasaannya kepada rakyat biasa. Jangan macam-macam dengan yang punya senjata, kau akan binasa. Tentara untuk mengamankan negara dari ancaman luar malah mengancam dan memerangi rakyat sendiri, aneh.
Selamat menikmati ketakutan kawan atau melawan!

Friday, 1 May 2015

Selamat hari pendidikan

Saya sering keliru antara tanggal 2 mei dan 20 mei, dulu kesannya tanggal 2 mei karena secara visual lebih kurus, jadi lebih cocok jika dihubungkan dengan hari kebangkitan nasional dan tanggal 20 sehubungan dengan angka nolnya, lebih afdol kalau dikaitkan dengan dunia pendidikan, karena nol adalah kosong menandakan otak kosong yang perlu diisi dengan pendidikan yang berguna. Ternyata semua pranalarku keliru.. makanya setiap ujian PMP yang menanyakan soal itu membuatku kalang kabut...hehe..

Sekarang untungnya tak pusing lagi soal tanggal-tanggal itu, lambat laun setelah mendekati uzur, angka dua urutannya adalah setelah satu. Agar tak lagi bingung dan terbalik antara Hardiknas dan Harkebnas, saya selalu berpikir bahwa para pekerja juga harus terus belajar! Setelah hari buruh tanggal 1, pendidikan tanggal 2, artinya sambil kerja keras kita harusnya tetap belajar sampai liang kubur! waaaaa horor..

Kenapa tanggal 2 mei ini disebut dengan hari pendidikan nasional? jawabannya silahkan cari di google, pasti ada, yaitu hari ulang tahun ki hajar Dewantara, pendiri taman siswa dan mantan menteri pendidikan.
Yang sering saya tanyakan dalam hati, kenapa tidak sebulan setelahnya yaitu 2 juni hari ulang tahun Tan Malaka, yang dijadikan hari pendidikan nasional?
Tan Malaka bersama Semaun dan Darsono mendirikan sekolah rakyat yang menerima bahkan menganjurkan rakyat jelata untuk menikmati indah dan pentingnya belajar di sekolah. Tan Malaka memang lebih muda 8 tahun 1 bulan dari Ki Hajar, namun sebelum Taman Siswa didirikan pada tanggal 3 juli 1922, Tan Malaka sudah ditangkap penguasa kolonial Belanda 13 februari 1922, karena sekolah-sekolah rakyat yang didirikannya semakin meluas dan mendapat sambutan hangat oleh semua kalangan. Ironisnya beliau ini ditangkap ketika menghadiri peresmian sekolah rakyatnya di bandung. Nah..

Nasi telah menjadi bubur.. bubur pun tetap enak di makan apalagi pakai sambel lethok bikinan emak!
Tak perlu dan tak ada niat untuk menuntut pergantian Hardiknas ini, yang terpenting nama baik tokoh pendiri bangsa dan guru sekalian tokoh revolusi ini dibersihkan dari coreng moreng jelaga orde baru.
Eh, mungkin banyak yang belum tahu kalau yang menerjemahkan lagu khas sayap kiri: the Internationale adalah Ki Hajar Dewantara, tokoh yang hari ulang tahunnya kita peringati sebagai Hardiknas.
Tanya: Atau orde baru sebenarnya belum mati?