Musim semi harapan bangsa empat musim di planet bumi
ditandai meriah warna warni bunga yang tiba-tiba ada begitu saja
datangnya hangat sinar matahari semakin nyata di depan mata pula di rasa kulit
April adalah pancaroba, kata orang sini: man weiß nicht, was er will...
Cuaca yang masih labil kadang hangat menyenangkan tapi tiba-tiba dingin menakutkan, kemudian tahu-tahu hujan salju lagi, bahkan kerikil hagel es yang belakangan terjadi juga di tanah air alhasil jika genteng rumah tak tahan pukulan alamat celaka!
berikutnya datang dengan semena-menanya angin ribut yang riuh rendah!
tak lupa pula hujan deras sering terjadi di bulan yang penuh muslihat ini.
Tapi walaupun begitu kacaunya organisasi cuaca di bulan april, yang jelas orang tetap tertawa bahagia, satu karena banyak bunga di mana-mana! tentu saja untuk orang yang tidak alergi serbuk sari yang berterbangan memenuhi udara musim semi. Lenguhan hatschyie!! tak jarang terdengar di mana-mana.. Pancaroba menampakkan kekuasaannya...
Kalau di tanah air kita pergantian siang dan malam adalah waktu yang sangat berbahaya, di sanalah kekuasaan pancaroba mencoba merongrong kekuatan fisik manusia, makanya oleh orang tua jaman dulu ketika candik ala orang harus berada di dalam rumah. Kebijaksanaan yang terselip dalam mitos warna kuning keemasan dunia sore hari yang beracun, anehnya aku malah senang sekali dengan suasana itu. Menurutku dunia jadi lain dari biasanya, semuanya menjadi kuning keemasan, jalanan, pohon, genting bahkan udara walau hanya sebentar saja jadi tak sepatutnya keindahan diabaikan.
Pun seandainya betara kala siap menerkam kita...
Alasan kedua kenapa april begitu menyenangkan adalah ada waktu dua minggu di bulan ini untuk libur sekolah, bagi yang masih lahap mengenyam bangku sekolahan, sementara yang lain senang dengan perayaan Ostern dengan kelinci dan telurnya!
Coklat manis berbentuk kelinci berkalung lonceng emas menjadi bagian penting perayaan yang diadopsi dari kebiasaan purba. Telur ditiup isinya, digambari ornamen, digantung di sana-sini sebagai hiasan. Dua itu adalah simbol kesuburan. Katanya binatang yang jadi maskot majalah parno ini bisa hamil susulan sementara hamil yang pertama belum sempat dilahirkan...
Keranjang-keranjang kecil yang dideko seperti sarang burung berisi susuatu yang manis-manis disembunyikan untuk kemudian dicari lagi, permainan yang cukup menjadi hiburan di kala cuaca tak menentu.
Mungkin karena begitu bervariasinya bulan ini, tak terasa berlalu dengan cepatnya!
Tahu-tahu sudah hampir Mei ..sementara ada deadline sebuah kompetisi seni grafis yang layak diikuti berakhir tepat awal bulan depan yang tinggal 1 hari lagi....hah!!
sm
Friday, 29 April 2011
Saturday, 5 March 2011
Kuburan
Yang hidup pasti nanti akan mati, tapi yang mati apa akan hidup? aku tak tahu..yang jelas yang telah mati masih akan terus menyita ruang dan waktu yang masih hidup!
Kuburan adalah tempat istirahat yang telah mati, selalu penuh dengan cerita misteri yang mengasyikan! Terutama bagi para penakut yang mencoba melawan ketakutannya sendiri atau pun yang sengaja membagi rasa takutnya ke orang lain demi mengurangi beban mental pengecut.Ada beberapa kompleks pekuburan yang bahkan telah jadi tujuan wisata, terutama sekali yang terdapat kijing-kijing, yang menyimpan abu atau tulang-belulang para tokoh yang tersohor seantero jagat.
Pere Lachaise dan Montparnasse adalah dua pemakaman yang sempat aku ziarahi tahun kemarin. Di depan pintu masuk pemakaman yang mempunyai jam besuk tertentu itu, terdapat papan nama permanen denah lokasi, yang akan memandu pengunjung menemukan kuburan sang tokoh dari masa lalu. Selain itu juga ada brosur saku yang bisa diperoleh di pos penjaga. Selanjutnya berjuang sendiri membacai nama-nama yang terpahat di batu nisan penuh nuansa seni berderet-deret rapi kuburan yang sejuk dan angker tapi tak menakutkan!
Sudah aku duga sebelumnya!
Kalau kijing yang satu ini pasti lebih ramai peziarahnya daripada yang lainnya.
Adalah makam pemuda flamboyan yang mati muda, 27 tahun, vokalis grup musik dari tahun 60-an, yang baru aku kenal musiknya ketika dimainkan band lokal di panggung penutupan ospek ISI tahun 1999.
Saat itu sebagai generasi yang terpontang-panting mengejar ketinggalan larinya om jaman modern selepas reformasi di tanah air, ku terpesona dengan musik aneh yang begitu menghipnotis! Tak pernah ku dengar sebelumnya musik yang begitu intensiv mengaduk-aduk batas antara kenyataan dan impian, tanpa tahu musik siapakah itu!!?
Setelah itu bertubi-tubi tanpa kendala masuk ke kepalaku, cerita-cerita tentang kehebatan band itu di masa lalu berikut dengan efek sampingnya.

Begitu mendalamnya di hati para fans, selalu digelar sebuah acara setiap tahun bertempat di sekeliling pusara pemuda yang mati gara-gara over dosis itu, semacam tahlilan tapi cara lain tentunya. Ada yang performance, musik, baca puisi, dan grafitti atau cuma ngobrol dan lain-lain. Demi mengurangi aksi vandalisme yang juga menimpa nisan-nisan yang lain, pihak yang berwajib telah menaruh pagar besi mengelingi pusara pentolan band The Doors itu.
Mungkin orang-orang yang ditanam di sekitar kuburan Jim Morrison akan merasa iri dan benci bahkan kalau masih bisa bersuara tentu akan protes!! hii...
Tapi image kuburan yang menegakkan bulu kuduk itu, lambat laun runtuh digerogoti oleh band kocak dari tanah air, dengan lagu hitnya lupa-lupa ingat!
Seorang kawan suatu ketika memakai t-shirt hitam kelam berhias band metal dari new york KISS!, siapa pun yang mengaku rocker, groupies atau generasi yang tumbuh di era 80an pasti mengenal grup band hard rock yang didirikan 1973 dengan personil yang selalu memakai bedak itu, tapi malang tak dapat ditolak oleh kawanku, ketika anaknya yang baru masuk SD berkomentar, lho kok bapak punya kaos band KUBURAN!!?...
Labels:
jim morrison,
kijing,
Kiss,
paris,
pere lachaise
Saturday, 26 February 2011
Karet
Suatu siang terang yang dingin, melewati jalan sepi untuk menghindari keramaian kota wisata Köln, mata ini takjub dengan bercak-bercak putih mirip-mirip panu yang bertebaran di trotoar yang ternyata adalah bangkai permen karet! Sungguh mengerikan membayangkan betapa banyak ludah orang banyak yang telah memfosil di trotoar itu hiii..Jalan searah itu, biasa dilewati mobil yang keluar dari rumah parkir, aku jadi kepikiran apakah setiap orang bermobil dan kebetulan lewat telah dengan sengaja meludah cuiih.. membuang gumpalan permen karet yang tak lagi manis dari rongga mulutnya di trotoar abu-abu yang tak ada PKL-nya itu, membangun sebuah monumen visual bau amis berbagai DNA.
Seorang teman dari Singapura mengaku bangga bahwa di negaranya ada larangan mengunyah permen karet di sembarang tempat, karena menyaksikan sendiri betapa jorok dan kotornya jika bahan lengket, lentur dan molor itu nempel di mana-mana pula sangat susah dibersihkan! Di kota Paris lah, dia merasa pertama kali sadar betapa berharganya aturan itu, karena gara-gara permen karet lah, kota yang sangat terkenal romantis itu adalah kota terjorok yang pernah dikunjunginya! Hah..
Bahan yang berasal dari tanaman yang hanya tumbuh di daerah tropis ini, selain untuk bikin produk senam muka dan industri ban mobil, yang paling penting menurutku adalah untuk bahan isolasi! Tidak bisa dibayangkan betapa susahnya jika tak ada karet, saluran air semakin rumit demi meminimalisir rembesan, tumpuan jembatan jadi tak stabil, semua serba kaku mudah patah, jendela-jendela rumah di eropa tak mampu menutup celah hawa musim dingin yang mematikan, desain mobil dan alat-alat modern lainnya tak akan menjadi seperti yang sekarang, dan slogan pegrafis tak lagi..keep on rolling! Heh..Tapi tetap saja ingatan tentang karet melulu yang buruk saja, identik dengan sesuatu yang tak patut, misal pasal karet, peluru karet, pemakaman karet, jam karet, apalagi jika rambut terkena kejatuhan permen karet! Wah..
Ingatanku melesat pada karet gelang yang biasa untuk mengikat bungkusan nasi kucing di angkringan atau warung koboi, telah menjadi simbol tak resmi seberapa banyak makan lo! di jaman mahasiswa dulu, bahwa barang siapa yang mengenakan gelang karet banyak berarti telah mampu dan mengisi perutnya dengan teratur! Lebih jauh lagi ke tahun 80-an, adalah tokoh Lupus yang selalu mengunyah permen karet dan menggelembungkannya! cool dan keren abis..anak muda sekali!! Tokoh idola jaman itu berpotongan rambut jambul bagian depan, tipis samping hampir kelihatan kulit kepala, dan keliwir kecil bagian belakang! weeh... mirip intel yang tampil di TV berita kriminal!

Ketika brownsing tentang karet ini, aku ketemu Band Rock Progresif dari kota california, berjudul Djam Karet!! entah bagaimana asal muasalnya sehingga telah begitu terpesona dengan budaya kita yang sangat populer itu atau terilhami dengan lukisannya Salvador Dali!! PReeet...
Puih.... masih mending kalau leher kita panuan, pakai irisan laos dan joget miring, selesai!
Lha kalau jalanan dan trotoar sudah berkadas panu, teknologi negara pertama pun belum sanggup mengatasinya! Nah..
Friday, 4 February 2011
Telinga
Sebelum turun tangga keluar, ku absen dulu ke toilet berkloset duduk yang biasa dipakai berdiri atau nangkring di atasnya, letaknya tepat berada di samping 2 lift yang telah banyak antrian. Setelah buang hajat kecil, ku setengah berlari melalui tangga yang sepi..lebih cepat pikirku daripada menunggu lift yang pasti penuh sesak..aku berharap masih dapat mencapai S-Bahn yang bertolak pada menit-menit itu, kalau tidak aku harus tunggu 20 menit lagi, itu pun tidak ada jalur bis yang melayani jalan ke rumah, kalaupun ada, bis jurusan kampung sebelah kanal, kanal yang berfungsi mengurangi kelebihan debit air Loisach mengalirkannya ke Isar agar kota tua dekat sungai itu tak kebanjiran.

Sampai di depan tangga turun menuju stasiun bawah tanah..sekitar 65 anak tangga!
ada ekskalatornya juga sih di sebelah kanan kiri untuk naik turun, tapi kalau jam-jam pulang kerja.. penunggang berderet penuh pula rotornya lambat bergerak..padahal S-Bahn sudah nge-tem! yang biasanya cuma 1-2 menit saja.... akhirnya terbanglah kedua kaki ini diantara 2 tangga turun mengejar waktu yang cuma 1 menit, sampai di bawah pas ketika titik-titik melingkar signal warna kuning kehijauan pada tombol untuk buka pintu sudah dibunuh bung masinis! Sementara itu kereta belum jalan juga mungkin tunggu signal dari pusat?!..sekarang cuma napas yang tersisa sambil mengumpat-ampit..scheiße! lirih tapi..karena tak sopan..
Ketika itu aku baru menyadari kalau suasana stasiun ini riuh rendah!Suara derit mesin ekskalator yang tadi terlewati plus beban yang ditanggungnya yang seolah tak pernah berkurang.. sangat jelas menabuh kendang telingaku..
Bisik-bisik tetangga klesak-klesik bahasa multi kulti...tidak hanya deutsch!
Bunyi-bunyian yang kalau paham disebut bahasa itu memenuhi peron dengan 2 jalur kereta S-Bahn, arah Ost Bahnhof(stasiun timur)dan HauptBahnhof(stasiun utama).
Wuuussh.....desir angin es dari arah tangga menyapu sayap telinga.
Kresek-kresek..gesekan bahan plastik, favorit vegan yang menghindari segala produk dari hewan seperti, sepatu kulit, tas kulit, jaket kulit apalagi kulit macan yang nge-rock!!
Klontriing-kllontring..klothek-klothek...koin sen berjatuhan dari mesin tiket otomatis..
Kluthik..nut-nut..nut...koin masuk lobang, jari lincah pencet nomor pilihan..
Nggnng...ngggnn...blurk....makanan ringan dan botol minuman dari lemari otomatis..
Huu..uh..orang tua mencoba tetap tegar berdiri dari posisi duduknya..
krengkeet-kreekeeet..kursi logam bermotif saringan tahu mengucapkan selamat datang atau selamat jalan pada pantat-pantat yang semakin tepos kebanyakan duduk di kantor, sekolah, kasir, seminar, ruang konser, gedung film dan perpustakaan..
Denguung listrik ngiiiing...tanda S-Bahn yang seharusnya membawa aku cepat pulang, menyala dan ancang-ancang berlari keluar dari terowongan 65 tangga ini..
Gemuruh angin dan dengan mesin S-Bahn mengubur riuh rendah sementara.
Tiit..tiiit..tiiit..jegblheek! pintu S-Bahn dari peron sebelah sedang menutup diri..

Ah Scheißee!! kali ini terdengar keras dari mulut pemuda-pemudi gaya masa kini, celana ketat mau copot dengan menampakan celana tidurnya, sepatu kets berlidah yang sebenarnya tak mampu mengusir hawa dingin, jaket gombrong motif distro yang ng-urban.. gara-gara ketinggalan S-Bahn yang baru saja terdengar suara pintunya dari peron sebelah..
Ngeek-ngeek...ngik-ngook..masuk juga sampai ke bawah sini suara pengamen akordion di atas!
Klothak-klothek..klothak-klothek...anggun berwibawa sepatu jinjit wanita karier..
Blussshk...kruuech..tangan masuk kantong jaket mencari kehangatan..
Schroook-shrook...srek-srek..ibu pensiunan mengulik tempat sampah mencari botol yang bisa ditukar 25 sen, sementara hasil pemulungannya tetap di dalam plastik kresek besar berlogo supermarket diskon yang cukup besar dipegangnya dengan erat mungkin takut lupa.!
Kriing...nut-nut...sreeet..tangan menarik resleting mencari sumber bunyi..kemudian..hallo!!
Hahahahaha...entah kenapa..
Mbwuuush! deru angin datang lagi tanda S-Bahn mampir lagi..
Ngiiiiiiing.... jreeeck! S-Bahn berhenti..njjzzzhh.... mesin standby..
Srachk-srechkk, klothak-klthek, gludag-geluduk, orang-orang merangsek merapat kearah pintu kereta..dengan menyisakan sedikit jalan bagi penumpang yang mau turun..
Niit!...tombol bulat di tengah-tengah pintu warna kuning kehijau-hijauan menyala,
Yak! dengan sigap pula tangkas jari atau jempol orang yang berdiri paling depan menyentuhnya, dari dalam juga terdapat tombol serupa dan yang mau turun juga tak mau kalah cepat dari yang dari luar!
Neeeiit..wiuiih..blhrek..pintu membuka terbagi dua kearah menyamping...
Hsh-hsh-hshh....dengus napas memburu membelai pundak antrian..
habis turun naiklah yang baru..
Kreetch-kreeetch..lantai perlack warna abu elastis terinjak sepatu berbagai merek-ukuran..
Krusak-krusek... krengket-krengket..bag-bug..cit-ciiit...dringgg-halo!...duk-jes-dak jes..sess-sesss..jjjzzhhh..ah itu dari sesuatu yang ditancapkan ditelinga..
Klontreeng..sesuatu berbahan logam bagian tas bertabrakan dengan elemen interior S-Bahn yang sungguh modern didominasi warna milenium itu..
Niiit-niiit-nit....jeglherk..pintu menutup lagi, aku ikut rombongan S-Bahn ini karena nmenghabiskan waktu 20 menit lebih menarik di jantung kota Marien Platz!
Ngeeeeng...njzzhh.....ngiiiinnng....S-Bahn jalan lagi..
Gluk-gluk..glegh..sambungan rel mengaduh..
Nngiieeehck-nnngieehck..sambungan atau bordes gerbong bergoyang mencari keseimbangan...
Hahaha..hehehe..hihihi...gelak-tawa beberapa penumpang..tapi lebih banyak diam merenung mengerutkan dahinya.. sebagian menekuri lembaran koran, menelaah tulisan para jurnalis..
Wesh-weeesh..dari kaca terlihat dinding dengan motif deretan papan bekas begesting yang berlarian menjauh kebelakang..gerakan molekul mata tak sanggup mengkap detail-detailnya.
Jeritan serius anak kecil yang merajuk menggoda bapaknya yang saat itu menjadi ibu yang baik,
Dreeeickh.. tsck-tsck...turun dari kereta bayinya.
Blag-bug..lari menjajal seberapa perhatian bapaknya.
Hiihihihi...hehehe...mhhm...orang-orang lain pun tersenyum simpul menyaksikan sang bapak bingung mengatasi percobaan ini..

Beberapa kali ketika mau mendekati stasiun berikutnya, diperdengarkan oleh pak masinis rekaman suara perempuan yang menginformasikan dengan bahasa hoch deutsch bahwa sebentar lagi S-Bahn sampai di stasiun ini, terimakasih telah menggunakan S-Bahn ini, Lift ada di sebelah ini(untuk orang tua dan penyandang cacat atau yang mau cepat-cepat!), kemudian silahkan turun di pintu keluar sebelah sini....terima kasih!
Naaarrrcht.. jeglrechk...kereta berhenti aku ikut rombongan turun ke pusat keramain kota!
Hsh-hsh...shhhh..sssshhss....lemah gemulaiku di antara napas bergegas orang-orang..
Krik-kriiik....nguuuuhck....brahk..kaki ini menginjak ekskalator mengantar ke atas tanah..
sesampainya di atas semakin nyata sayup-sayup dari bawah..
Dang-dung..jreeng-jreeng...gedubrak-gedulk.. blesssh...pemain band amatiran sedang check sound!! jadi ingat masa muda dulu...hehe..

Ternyata hari itu di kota München digelar konferensi Sicherheit(keamanan)seluruh dunia!
Panggung darurat di depan Rathaus didirikan untuk berdemonstrasi menentang perang!
Di depan panggung telah banyak orang berkumpul, berfoto-foto, kasak-kusuk, polisi annti huru-hara bergerombol banyak sekali...aktivis membagi-bagikan koran dan selebaran, ada juga yang berjualan pin tanda rebelian, terdapat puluhan plakat yang memberitakan tentang korban perang dan perdagangan senjata! spanduk di atas panggung tertulis...Tentara Jerman keluar dari afghanistan!!!

aah..menyenangkan sore yang gelap berirama riuh rendah itu!!
Sesekali telinga ini juga harus dimanjakan...
s.m.
Saturday, 1 January 2011
Tulisan telat hari bulan januari tahun masehi 2011 ini!

badan masih lemah tak mampu berdiri
sementara mata mengembara kesana-kemari
padahal sudah tidak pagi lagi
maklum tidur lewat dini hari
ikut perayaan tahun baru masehi
tetap saja kebiasaan mata bangun pagi
tak bisa membohongi diri sendiri
akhirnya juga ke kamar mandi
buang hajat tapi tak gosok gigi
naik ke atas untuk minum kopi
sarapan pagi dengan keju dan roti
rendang, sambal tak lupa nasi
sambil ngobrol sana-sini

lupa waktu telah lewat tengah hari
saatnya kehidupan normal kembali
antar teman ke halte bus 10 menit jalan kaki
sudah ada bis yang hampir pergi
tak biasanya, untung pak sopir baik hati
mundur lagi dan membuka pintu untuk teman kami

kembali seperti sediakala kampung ini
seperti kota mati tak berpenghuni
tak seorang pun yang berpapasan dengan kami
hanya sisa kertas dan jelaga amunisi
tersebar bangkai kembang api
di sana dan di sini
sebuah paradoks krisis ekonomi
berserakan di atas putih salju yang mengotori
ahh..kehidupan di sini
menyala hanya 5 menit kemarin dini hari

huh!
Sunday, 17 October 2010
Delft 1

Delft, sebuah kota tua antara Den Haag dan Rotterdam, sangat indah sekali. Bangunan kecil-kecil antik rapat berderet-deret berdesakan menuju langit, pelukis Jan Vermeer dulu tinggal di kota ini. Yang menarik selain itu adalah kanal-kanal yang mengepung kota, hampir setiap gang dipisahkan oleh kanal-kanal dengan jembatan lengkung artstitik sebagai penghubung. Permukaan air kanal mengalir pelan seperti tak bergerak, sekitar 15-20 cm lebih rendah dari jalan, dan berwarna hijau lumut. Tak terlihat seorang pun sedang memancing, kecuali sepeda-sepeda yang berjejer parkir di pinggiran kanal. Setiap tahun, cerita kawanku, pemerintah kota Delft membersihkan kanal dari sampah..Sepeda!!(yang oleh orang iseng dilemparkan ke dalam kanal).
Walaupun demikian, bahkan ketika musim hujan pun tak pernah terjadi banjir di kota ini!!??
Beberapa jendela rumah yang berada di pinggir kanal terlihat hampir menyentuh permukaan air kanal menjadi bukti kuat dari cerita kawanku tentang tidak ada permasalahan banjir di kota yang sebagian besar adalah area fußgängerzone ini.
Aku mau tak mau harus angkat topi mengagumi teknologi dari bangsa yang sampai beberapa keturunan pernah menguasai tanah air kita. Yang jadi pertanyaan dalam batin ini kemudian:
kenapa ilmu mengatur air ini tidak diwarisi(kan) oleh(pada) orang kota kita, terutama tentu yang sedang pegang kekang kendali...??
sm
Tuesday, 12 October 2010
Frida Kahlo dan Palu Arit (tahap 2)

..akhirnya bergeser sedikit demi sedikit, kami sampai di ujung tangga menuju lantai atas, namun masih juga menunggu penjaga yang sungguh necis perlente memberi isyarat untuk naik tangga dari marmer ke arah kanan, karena yang ke arah kiri menuju ruang pameran yang lain, adalah seniman kontemporer dari Kopenhagen: Olafur Eliasson yang artinya Olafur anaknya Elias, walaupun karyanya lebih up to date pula kontemporeeeer.., pengunjung lebih tertarik untuk melihat pamerannya seniwati dari meksiko, ini terbukti dari tidak ada antrian sebatang pun yang menuju ke arah kiri, ke arah ruang yang memajang karya-karya seniman kontemporer Denmark itu.
Agak lama juga kami berdiri di depan tangga marmer, memperhatikan penjaga yang aktif dengan HT-nya, mungkin sedang brik-brik-an dengan koleganya di pintu keluar untuk memantau jumlah pengunjung yang sudah keluar, sebagai referensi pertimbangan jumlah pengunjung yang boleh menaiki tangga...isyarat itu akhirnya datang juga, aku dan berturut-turut tidak sampai sepuluh orang di belakangku dipersilahkan untuk naik ke atas, kemudian lagi-lagi masih antri juga di atas undak-undakan, yang karenanya membelok sepanjang dinding ruangan, kami bisa melihat antrian di lantai bawah, yang tetap saja seperti tak ada ujungnya, padahal jam besuk pameran terbatas, cuma sampai jam 8 malam. Sedangkan kami pun belum memasuki ruangan, tanda waktu sudah jam 3 sore lebih!! bisa dibayangkan betapa pendeknya kesempatan untuk melahap seluruh hidangan karya dengan sepenuh jiwa.
Mendekat ke arah pintu masuk...di sebelah kiri terdapat stand penjaga, yang menyediakan alat mirip remote control, lebih besar dari pisang ambon, terdapat tombol-tombol dan speaker, gunanya untuk memperdengarkan informasi terkait. Baru kali ini aku melihat alat yang seperti itu karena biasanya terdapat earphone-nya, tapi yang ini kita harus menempelkan alat itu ke telinga, mirip sedang menelepon seseorang, namun tak halo-halo..
Di depan lobang masuk ruang pameran, yang tampak gelap dari luar, terdapat dua orang penjaga, laki dan perempuan yang sudah tua, aku menduga mereka bukan sekedar penjaga biasa melainkan petugas yang sangat berkompeten dan sudah berpengalaman bertahun-tahun pula telah tercerahkan ratusan bahkan ribuan karya seni yang singgah di Gedung Martin Gropius ini. Dua penjaga itu dengan sopan dan elegan mengamati pengunjung yang sedang berdiri antri, grapyak menyapa antrian paling depan, matanya tetap awas kalau-kalau ada yang membawa sesuatu yang dilarang ke dalam ruang pamer. Waktu itu ada pengunjung yang kedapatan membawa tas ransel. Penjaga yang sudah tua tadi menyuruh perempuan itu turun lagi untuk menitipkan tasnya di Garderobe lantai dasar. Masih untung dia tetap diberi urutan antrian yang sama ketika datang lagi sambil menenteng isi tas ranselnya tadi..Laptop. Kemungkinan seorang jurnalist atau mahasiswa yang dapat tugas menulis tentang sebuah pameran, karena begitu masuk ruang pameran, jari-jarinya langsung bekerja memencet-mencet tuts huruf di keyboard laptopnya.
Kami pun masuk....
cahaya remang-remang menyambut, lampu spot diarahkan ke lembaran-lembaran kertas putih di dinding, berisi penjelasan, kronologi juga curicullum vitae sang seniwati dalam dua bahasa: deutsch dan english. Suasana hening, semua sibuk membaca dalam hati, kalaupun ada yang berbicara pasti bisik-bisik mirip di ruang perpustakaan yang sebenarnya. Aku pun ikut-ikutan membaca, dengan mengerutkan kening kukerahkan aji level grundstufe ke empat...lumayan, lebih dari 50 % kira-kira bisa ku mengerti tulisan yang banyak sekali ..sch-nya itu.
Frida Kahlo dilahirkan tanggal 6 juli 1907 di Coyoacan, Meksiko city, yang kemudian olehnya sendiri tahun kelahirannya digeser ke tahun 1910, tepat dengan tahun revolusi Meksiko!
Leluhur dari garis ayah berasal dari pengembara Jahudi Hongaria yang menetap di daerah Baden Baden, Jerman. Kakeknya, Jakob Heinrich Kahlo lahir 1819 di Frankfurt, menikah dengan Henriette Kaufmann dari Pforzheim. Wilhelm bapaknya Frida merupakan anak ke tiga pasangan itu, berturut-turut Herminie, Marie, Wilhelm, ketika melahirkan anak ke empat: Carolina, Henriette neneknya Frida meninggal dunia pada usia 38 tahun! Rupanya sang kakek tak tahan sendirian, dikelilingi anak yang masih kecil-kecil, akhirnya tiga tahun kemudian dia kawin lagi dengan ludowika Rahm. Besar kemungkinan inilah yang menyebabkan Wilhelm muda, 18th, melalui pelabuhan Hamburg bertolak merantau ke Meksiko dan tak pernah kembali lagi ke Jerman sampai ajalnya.
Di Meksiko nama Wilhelm disesuaikan dengan bahasa spanyol menjadi Guillermo. Umur 22 tahun Guillermo menikah dengan Maria Cardena, namun 4 tahun kemudian istrinya meninggal dunia, meninggalkan 2 anak. Tak lama pula keluarga baru dibangunnya bersama Matilde Calderon anak seorang photografer. Dari istri yang kedua inilah lahir anak ke tiga yang berjudul: Magdalena Carmen Frieda Kahlo Y Calderon. Ketika Frida lahir itu bapaknya sudah terkenal sebagai fotografer seni, yang berarti bukan sembarang tukang foto.
Ketika Kahlo tua yang di jerman meninggal dunia, terjadi keributan soal warisan, kendati demikian Guillermo tetap memperoleh bagian wajib yang minimum, dipakainya lah uang warisan itu untuk membangun sebuah rumah di Coyoacan, yang oleh Frida kemudian dindingnya dicat warna biru indigo untuk melawan roh-roh jahat!! Semenjak itu terkenal dengan sebutan Casa Azul-Rumah Biru dan sekarang jadi Museum Frida Kahlo.
Beranjak ke ruangan berikutnya, dipajang foto-foto yang merunut para leluhur seniwati, foto kakek-neneknya, masa kecil, dewasa dan saat-saat terakhir sebelum kematiannya. Foto-foto yang tergantung memenuhi ruangan itu, katanya baru pertama kali ini dipublikasikan secara komplet dalam sebuah pameran. Sangat beruntung Eropa memiliki kelembaban udara yang bersahabat dengan material terlebih bahan kertas yang ringkih di alam tropika, sehingga peninggalan karya fotografi sebelum perang dunia I masih sangat terawat.
Selanjutnya kami memasuki ruangan yang memajang karya-karya sang seniwati yang mengundang decak kagum, dimulai dengan lukis potret dirinya.
Seperti telah anda semua ketahui, Frida mengalami kecelakaan maut pada umur 18 tahun, yang mengharuskannya tetap berada di atas tempat tidur dalam jangka waktu yang lama, karena tulang belakangnya remuk sehingga perlu dipasang batang platina sebagai penyangga dan memakai korset dari Gips! Untuk mengusir kejenuhan, ayahnya memberi peralatan melukis, yang kemudian menjadi jalan hidupnya. Lukisan telah menjadi alasan yang serius pada diri Frida untuk bertahan hidup!!.
Terlampau banyak juga tulisanku nanti walaupun hanya menyebut satu persatu judul karya yang dipajang, sekitar 150 karya, jadi ku langsung menuju ruang berikutnya yang berisi karya-karya yang bertema surealis, tidak mengherankan juga pengaruh surealisme sangat kuat karena memang ketika Frida anjangsana ke eropa, tepatnya di kota Paris dia berteman akrab dengan tokoh-tokoh surealisme, macam Andre Breton, Max Ernst, Paul Eluard, Joan Miro, Yves Tanguy dan Wolfgang Paalen. Sebuah lingkungan yang sangat mendukung kelanjutan karir kesenimanan tentu saja, apalagi masih terdapat deretan nama tersohor lain yang berada di lingkungan itu, seperti Picasso, kandinsky dst. Ketika di paris, Frida menghibahkan satu karyanya untuk museum louvre, yang pertama kali seniman dari meksiko.
Ruangan berikutnya memajang karya-karya sketsa, yang menurutku sebagai periode bingung, antara belajar gambar bentuk dan abstrak, namun begitu tetaplah karya yang sangat penting untuk melihat sejarah perjalanan seorang yang terkenal dengan sebutan Popstar des Schmerzen.
Ruangan berikutnya memajang koleksi benda-benda milik Frida, seperti Baju adat meksiko yang telah dimodifikasi sedemikian rupa olehnya sendiri, dan yang menarik pula patut diceritakan adalah korset dari bahan gips yang telah menyangga tubuhnya selama proses penyembuhan tulang belakang.
Bagi anda yang telah menonton film Frida yang diperankan Salma Hayek, tentu masih ingat ketika pacarnya pamitan mau ke Eropa dalam jangka waktu tak terbatas, Frida menggambari korset gipsnya dengan gambar kupu-kupu.. tak lebih, ketika aku melihat korset Gips yang sebenarnya di ruang pamer ini, berdesir jantung ini tandanya aku lahir dari jaman orde baru. Tepat di tengah-tengah bagian dada adalah gambar Palu Arit berwarna merah yang telah sedikit pudar.
Gambar palu dan arit yang merupakan simbol persatuan buruh dan petani, sejatinya telah dipakai sejak meletusnya revolusi Bolshevik 1917, namun baru tahun 1922 secara resmi dipakai sebagai lambang partai komunis. Di tanah air gambar ini merupakan sebuah aib, barang siapa ketahuan mempunyai atau menyimpannya akan segera berurusan dengan yang berwajib! lebih ngeri lagi jika ketahuan yang tidak berwajib alias yang partikelir. Sampai sebegitu paranoidnya sebagian masyarakat kita bahkan menganggap gambar Palu dan Arit adalah lambang dari alat-alat yang dipakai untuk menyiksa para jendral dan penentang PKI..hiii..ngeriiii...
Benar juga ucapan A.H. Nasution, Seorang Jendral yang selamat dari penculikan gerakan 30 september, peristiwa yang masih tetap berselimut kabut sampai sekarang, dalam sebuah film, yang dulu ketika aku masih dalam masa pertumbuhan adalah tontonan wajib setiap tahun di TVRI, bahwa: Fitnah lebih kejam dari pembunuhan! yang apabila dibalik: Pembunuhan tidak lebih kejam daripada fitnah!!! ...wah yang ini lebih ngeriiii lagi....
ok deh... daripada bulu kuduk semakin tegak berdiri, aku sudahi dulu tulisan ini.
Mungkin akan bersambung....
sm
Subscribe to:
Posts (Atom)




