Thursday, 28 January 2010

Gedächtnisbuch...apa itu?


Setiap 27 Januari,
sehabis perang dunia II diperingati sebagai hari pembebasan orang-orang yang ditahan di Arbeitlager, lebih akrabnya Kamp Konsentrasi bikinan pemerintahan Nazi Jerman. Konon kabarnya pada tanggal itu pertama kali tentara Rusia membebaskan tahanan yang ada di Gheto-istilah lainnya. Bicara Kamp Konsentrasi, pada jaman Kolonial Hindia Belanda, pemerintah membangun Kamp Konsentrasi -mungkin yang pertama kali dalam sejarah modern- Boven Digoel yang terkenal dengan Tanah Merah, untuk menampung ekstrimis-ekstrimis yang dikatakan menganggu ketertiban umum kala itu. Terutama setelah terjadi pemberontakan rakyat yang dimotori oleh PKI untuk memerdekakan Republik tahun 1926.
Kembali ke 27 Januari,
banyak pameran diadakan, tentang dokumentasi peristiwa yang memalukan peradaban manusia di Eropa itu, untuk melawan lupa juga jangan sampai terulang lagi yang utama.
Di München, Arbeitlager-mirip tempat kerja paksa Romusha di jaman Jepang- terdapat di Dachau.
KZ Dachau ini awal dibuka 20 Maret 1933 oleh pemerintah Hitler untuk politikus Jerman sendiri yang melawan Regime. Sekitar 150 aktivis politik mulai 22 maret menghuni Kamp tersebut. Berturut-turut kemudian mulai 1 April 1938 berdatangan tahanan dari luar Jerman.
Bulan November tanggal 9-10 1938 tercatat masuk tahanan Jahudi yang jumlahnya 10.911.
Sampai pada waktu pembebasan Kamp sedikitnya 43.000 yang mati dari total 202.000 tahanan yang ada di KZ Dachau.
Untuk merangkai semua kejadian pada jaman itu di terbitkanlah sebuah buku- Gedächnisbuch-didasarkan pada penuturan mantan tahanan yang masih selamat dan masih sempat untuk diwawancarai.
Di Waldram, sebuah desa kecil di selatan München terdapat sebuah Gymnasium-SMA kalau di Indonesia, 27 Januari kemarin tidak ketinggalan untuk mengajak menengok kembali ke masa suram dalam sejarah Jerman. Sebuah pameran foto dan dokumentasi hasil wawancara murid Gymnasium tersebut dengan beberapa mantan tahanan yang masih selamat dari KZ Dachau.
Menarik bukan!
Generasi muda walaupun mungkin awalnya sebuah tugas sekolah, tapi kemudian bisa mempresentasikan cerita dari narasumber dengan baik dalam sebuah pameran.
Kita bisa bandingkan kepedulian tentang sejarah dengan generasi muda di Indonesia. Juga bandingkan dengan kemauan pemerintah dalam hal ini yang paling berkompeten dalam hal mencerdaskan kehidupan bangsa. Sudahkah pemerintah kita mendukung kajian sejarah yang mencoba menguak luka lama, di periode kapanpun? baik itu sejak jaman kolonial Belanda sampai euforia Reformasi?
Karena bagaimana pun juga kalau ingin mengobati luka harus lah dilihat, diperiksa, dipelajari, dan dianalisa luka tersebut biar tepat dosisnya sehingga cepat sembuh dan bisa sehat normal selayaknya manusia. Bukannya ditutup terus menerus dibiarkan saja koreng itu sampai membusuk dan berbau amis mengerikan.......
Tidak sedikit komentar yang mengatakan ngapain urus masa lalu? Saat ini aja hidup sudah susah!!
Nah ya mereka tidak sadar hari ini adalah terusan yang kemarin, kalau tidak mau melihat lagi yang kemarin tidak akan pernah bisa belajar dari kesalahan kemarin untuk kebetulan hari ini.....

Thursday, 14 January 2010

sri_maryanto_woodcut_oraber_kitasemuapastimati

Cling!!...akhirnya aku, kau...kita ada...
Ilmu pengetahuan telah mengajarkan, kita berasal dari pembuahan sperma laki-laki di dalam rahim perempuan melalui proses yang tak terjelaskan kenapa bisa?
Ilmu agama menjelaskan kepada kita kalau manusia atau kita tentunya berasal dari lempung, yang setelah ditiupkan ruh oleh Tuhan maka hiduplah sebagai khalifah dunia.
Tetapi yang tak terjelaskan namun juga merupakan kepastian adalah bahwa tiupan pertama kali yang menghidupkan itu adalah juga yang terakhir kalinya. Jadi sekali lagi sudah dipastikan kalau pada akhirnya habis juga ruh hasil tiupan Tuhan itu.
Nah ya kalau dihitung-hitung durasi tiupan Tuhan itu paling banter 100 tahun, itupun sangat jarang terjadi. Walaupun ada juga yang bertahan lama sampai 125 tahun seperti kakek buyut saya. Bosan juga kalau hidup tahan lama sementara yang lain sudah tak ada lagi mirip highlander. Hidup yang kesepian jadi lebih sepi lagi.
Karya ini merupakan renungan kembali sudahkah kita menggunakan durasi yang begitu singkat ini untuk kehidupan semesta? walaupun kita sebenarnya lebih kecil dari debu sekalipun, kita adalah ada. Dan ada itu ikut mempengaruhi keadaan seluruhnya.

Tuesday, 12 January 2010

Sunday, 13 December 2009

MATAHARI


Masih ingat sekali dalam pelajaran di Sekolah Dasar bahwa Matahari adalah sumber energi utama di bumi. Jaman dulu matahari dianggap sebagai Dewa, disembah dan dirayakan keberadaannya. Sampai sekarangpun masih ada jejak penghormatan manusia terhadap matahari walaupun bukan sebagai Dewa lagi. Kata Sunday yang dalam bahasa Indonesia dibilang hari minggu adalah hari matahari, sedangkan kita tahu bahwa hari minggu adalah hari libur.  Bangsa Mesir kuno yang telah sangat canggih peradabannya termasuk pemuja matahari sebagai dewa.
Matahari adalah pusat kehidupan, matahari mati akibatnya kehidupan mati juga.
Di negara yang terdapat musim di mana kuantitas sinar matahari sangat sedikit sangat terasa sekali pentingnya sinar matahari bagi kehidupan. Pada musim tersebut tumbuhan tidak bisa hidup. Suasana muram sekali dan seringkali membuat depresif. Kehadiran sinar matahari sangat ditunggu-tunggu karena begitu matahari datang lagi kehidupan lebih cerah ceria menyenangkan.
Sebagai makhluk hidup manusia pun tidak luput dari ketergantungannya dengan matahari. Pada waktu matahari tenggelam adalah waktunya tubuh kita beristirahat. Pengalaman membuktikan jika begadang malam hari tidur yang diperlukan pada siang harinya lebih banyak jika dibandingkan dengan tidur malam hari. Masih untung jika kondisi masih fit setelah bangun dari tidur siang. Hal ini berbeda dengan aktifitas siesta.
Manusia adalah penguasa di bumi. Sejak jaman renaisance manusia adalah pusat, dengan otoritasnya manusia telah berhasil membangun peradaban yang demikian pesatnya. Ilmu pengetahuan manusia telah menghasilkan solusi peradaban termasuk dibidang energi. Olahan minyak bumi salah satunya. Minyak yang dihasilkan dari penambangan endapan fosil jutaan tahun silam yang berada jauh di dalam perut bumi. Ilmu pengetahuan juga yang membawa pada kesimpulan bahwa energi minyak bumi dari fosil tersebut tidak bisa diperbaharui alias kalau habis ya habis titik. Dengan ilmu pengetahuan juga mulai dicari alternatif energi yang lebih murah dan dapat diperbarui. Sekali lagi dengan ilmu pengetahuan juga manusia mulai membaca efek samping yang telah ditimbulkan peradaban minyak bumi, ternyata tidak ramah lingkungan. Matahari dilihat kembali dengan sudut pandang berbeda, sebagai solusi energi yang murah dan ramah lingkungan. 
Sebetulnya sudah banyak kemajuan dibidang pemanfaatan energi matahari sebagai ganti minyak bumi, ironisnya terutama di negara-negara yang terdapat sedikit sinar matahari. Di negara-negara tersebut hampir di setiap rumah sekarang atapnya nampak panel-panel surya untuk menangkap energi matahari yang digunakan untuk kebutuhan energi rumah tangga seperti listrik dan memanaskan air. Karena bisa dibayangkan kalau tak ada air panas bisa dipastikan penghuni negara itu akan tersiksa kalau mau mandi di musim dingin, ah.. setiap kesulitan ada kemudahan.
Sedangkan negara Indonesia yang sepanjang tahun kaya akan sinar matahari, pemanfaatan energi tersebut belum banyak terlihat. Sudah lumayan sekarang banyak terlihat lampu lalulintas ada yang telah memakai energi matahari. Kita juga sudah lama memakai kalkulator yang memakai energi sinar.
Begitu lama ilmu pengetahuan pemanfaatan energi matahari ditemukan namun anehnya sampai sekarang seperti jalan di tempat. Banyak alasan yang dikemukakan, misalnya tentang SDM dan mahalnya pembuatan alat pengolah energi matahari. Sebuah alasan yang kurang tepat karena bahan bakunya akan gratis sepanjang masa. Sedang SDM, dengan segala keterbatasan banyak manusia Indonesia yang bisa cerdas tak terduga. Apalagi jika dibandingkan dengan banyaknya biaya untuk pengolahan energi minyak bumi, lebih-lebih efek polusi yang ditimbulkan. eh..malah ada keinginan yang aneh mau bikin PLTN!!!..Energi Nuklir yang jelas sudah terbukti sangat berbahaya dan mahal!!
Sekali lagi segala keputusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak kadangkala hanya tergantung segelintir orang yang sedang berkuasa. Mungkin juga para penguasa belum ketemu pola yang pas jika kesempatan untuk memonopoli energi semakin dipersempit. Apalagi semua yang ada di bumi serba berkaitan tidak bisa tidak, satu bumi bermacam-macam populasi, ada yang menguasai dan ada yang dikuasai. Dengan perangkat lunak ataupun keras hegemoni terus terjadi. 
Ah.. semoga saja manusia yang sedang dilimpahi berkah berkuasa sedang tidak menganut falsafah....gajah dipelupuk mata tidak kelihatan sementara semut di seberang lautan nampak jelas padahal tidak.

Saturday, 12 December 2009

Cemplung, Kasihan, Bantul


Awal tahun 2001 sampai awal 2006,
setelah sekian lama menggelandang kabur kanginan, nebeng kosan kawan ini dan inu atau jadi penunggu kampus ISI Sewon yang harus siap uji nyali setiap hari, setelah rencana ngapling di ruang kuliah bekas FSRD ISI Gampingan (sekarang Jogja Nasional Museum) yang merana karena ditinggal institusi resminya ke kompleks baru yang lebih mirip bangunan pasar Bringharjo atau kantor kecamatan di negeri ini(sebuah tipe arsitektur yang menggejala dewasa ini buah karya arsitek sekelas alumni STM) tidak jadi diteruskan, walaupun segala fasilitas tersedia gratis!!(misalnya air, listrik juga sewa kamar) karena aku terlalu penakut, bisa dikatakan terlalu ngeri dan trauma dengan insiden penyerangan primitif oleh kelompok yang membawa-bawa nama Tuhan, sambil melempari kaca dan memukuli orang-orang yang kebetulan ada di sekitar bangunan tersebut ketika gerombolan itu menyerbu..... akhirnya aku putuskan untuk sewa atau kontrak rumah menjauhi hiruk pikuk kota hampir metropolitan yang tanggung.

Bersama kawan kampret, aku dapat rumah bekas kontrakan senior di jurusannya, patung.
Lokasi rumah di utara persis jembatan merah yang bersejarah, sebelah barat pabrik gula dan spriritus Madukismo, Cemplung, Kasihan!!!
Empunya rumah Mbah Djojo, tinggal sendiri, 2 anaknya telah berkeluarga, punya rumah sendiri-sendiri, tapi masih satu kampung juga.
Rumah kontrakan itu sekitar 3-4 meter di bawah jalan, pinggir sebelah timur kali bedhok.
Perlu mental baja untuk turun naik dengan motor atau sepeda karena begitu curam dan terjal tanjakannya. Beberapa kawanku telah terjungkal ketika naik turun naik motor tapi nggak sesuai gigi yang dibutuhkan.

Desain rumah seperti pada umumnya desain rumah orang biasa jaman ini, sebuah desain yang tanggung, tidak modern pun juga tidal tradisional, mungkin posmo haha!!.
Beratap segitiga sama sisi, luas kira-kira 24 meter persegi(4x6), terdapat ruangan agak luas bentuk Letter L , 2 kamar tanpa pintu dengan boven kecil berkaca di tiap kamar, pintu depan dan belakang segaris, jadi dari pintu depan bisa lihat ruangan setelah pintu belakang. Terdapat jendela kayu 2 buah di bagian depan sebelah kiri, jendela kaca kecil yang jadi satu dengan pintu depan. Pintu belakang menghubungkan ruangan berlantai tanah yang ditempati mbah Djojo dan kadang teman-teman seangkatannya yang datang berkunjung, dari situ kalau terus belok ke kiri menuju dapur. Di dapur yang beratap pendek, yang kasaunya dari berbagai macam bahan kayu bekas, permukaannya hampir datar. di tempat itu kami diperbolehkan mengolah kemampuan memasak sejak dini. Teknik memasak mungkin terbilang kuno, memakai bahan bakar kayu yang didapat dari kebun, dengan tungku gerabah (keren)..

Pada waktu pertama pindah ke rumah di bawah jembatan tersebut, sungainya jernih sekali dan banyak ikannya. Ada Lele, wader, belut, udang, yuyu, cethul dsb. terutama sekali ikan sapu-sapu yang sangat terkenal di Ciliwung. Aku masih sempat menikmati kesegaran air bedhok dengan mandi dan cuci di sana. Kian hari air sungai makin kotor! juga makin dangkal, walaupun begitu masih ada orang kampung yang memanfaatkannya untuk MCK. Pernah satu kali pas kami sedang main-main di sungai, dari hulu datanglah rombongan coklat kehijau-hijauan krampul-krampul, belakangan baru tahu kalau itu kotoran babi dari perternakan babi di daerah atas di mana sungai itu berhulu, tanpa babibu langsung ku loncat dari air.
Pada jam-jam tertentu, biasanya pagi sekali atau sore hari juga malam hari, diperdengarkan suara benda jatuh dari atas jembatan. Bungkusan plastik kresek tersimpul yang berisi sampah rumah tangga campur aduk. Mungkin karena di sekitar kampung itu banyak terdapat perumahan RSS yang problem sampahnya tidak dipikirkan solusinya.

Pinggir sungai sebelah barat bertebing curam, hampir ambrol karena erosi tergerus air sungai, dengan sedikit pohon bambu yang terlihat telah tampak payah mengaitkan akarnya ke dalam tebing, supaya tak ikut terbawa arus sungai. Di atas tebing adalah TPA limbah pabrik gula Madukismo. Pabrik itu terkenal sekali dengan sebutan pabrik gula padahal yang tak kalah penting bahkan paling penting juga produksi spriritus juga alkohol!! kata sebuah sumber setiap musim giling ada beberapa truk tangki militer yang angkut alkohol murni dari situ, entah untuk apa?!
Ketika musim giling tiba, ya ampun! bau tengik dan hitam abunya kemana-mana. Abu madukismo terkenal susah di sapu, karena begitu disapu dari lantai bekas hitam goresan sapu nampak menghiasi lantai. Namun semua itu dianggap wajar saja oleh sementara orang yang tinggal di situ, mau apa lagi lha orang kecil ndak isa nuntut, apalagi untuk berpikir yang besar-besar paling-paling menggerutu saja.....
TPA itu juga termasuk ladang basah untuk mengais rejeki. terutama ketika habis musim giling. Ketika ada truk yang mau buang sampah dari pabrik, ramai-ramai orang-orang yang tidak kerja atau tidak punya pekerjaan termasuk yang sedang aktifitas di sungai segara berlarian berlomba mendapatkan harta karun yang bisa ditukar uang, yang paling beruntung ketika menemukan sesuatu yang berat macam besi tua dst.

Ketika musim hujan datang, suasana rumah lembabnya bukan main....air dari bawah lantai naik! lantai semen di dalam rumah ikut basah ngecemes!! Semuanya jadi  berjamur tak terkecuali......so dinding bercak berjamur merupakan pemandangan yang biasa. Yang paling menjengkelkan lukisan tugas kuliah bertotol-totol putih mushrom lebih-lebih yang berbahan cat minyak..kalau badan sih scheiß egal..(ada seorang kawan yang coba atasi problem jamur pada kanvas memakai obat panu!!!)

Namun bagaimana pun juga aku tetap merasa beruntung dapat dan pernah tinggal di sana, warga di kampung situ bisa memahami sifat asosial mahasiswa seni pada umumnya, penting juga karena uang sewa hanya 500 ribu setahun, pajak listrik paling banter cuma 25 ribu, cocok dengan kondisi finansial mahasiswa kere berdikari. Selain itu aku masih sering dapat jatah makan dari empunya rumah. Mbah Djojo mungkin juga senang karena ada yang menemani tinggal di sebuah dataran yang otomatis hanya ada 2 rumah yang saling berjauhan, selebihnya kebon suwung yang sedikit horor!!


Thursday, 26 November 2009

Cerita Tentang Gagak




Pertama keluar bandara Munich, aku begitu terkesan dengan burung gagak yang ada di sawah-sawah longitudinal di kanan-kiri jalan raya. Burung ini dalam bahasa Jerman disebut die Krähe, warnanya hitam kelam sekujur badan, suaranya serak-serak garing. Mereka banyak terdapat di mana-mana, di taman, kota, desa, di sawah-sawah, dan sebagainya. Sepertinya selain burung merpati yang memang sudah terkenal sebagai penghuni gedung-gedung di kota-kota wilayah Eropa, gagak juga akan menjadi trade mark.
Mereka bisa bertahan dalam suhu yang mengharuskan manusia membungkus seluruh badannya dengan jaket wool yang tebal. Mereka juga telah bisa beradaptasi dengan lingkungan yang telah dibentuk manusia.
Kata kawanku yang lahir dan besar di sini, burung gagak yang ada sekarang lebih banyak jumlahnya, bahkan tak terduga bisa sebanyak itu. Tahu sendiri jika musim dingin suhunya bisa minus...yang ya ampuuun dinginnya. Banyak sekali burung yang mulai berimigrasi ke Afrika ketika suhu di Eropa mulai dingin. Sementara itu butrung gagak tetap bertahan dengan segenap kecerdasannya untuk tetap survive.
Di kota kita bisa lihat burung gagak itu bisa dengan santai sekali berdekatan dengan manusia yang lalulalang di jalan-jalan seolah burung yang jinak. Dan memang orang disini tidak seperti di kampung halamanku yang senang berburu burung untuk dimakan. Jadi mungkin mereka gagak-gagak itu tahu manusia di sini tak akan mengganggunya.
Banyak cerita tentang begitu cerdasnya burung ini untuk survive. Pernah suatu kali orang memperhatikan ada gagak yang menjatuhkan biji-bijian yang keras dari atas ketinggian ke jalan raya supaya pecah kulitnya yang keras agar bisa dimakan isinya. Yang lebih membuat aku penasaran adalah cerita bahwa ada gagak yang menaruh biji-bijian itu di depan roda mobil yang berhenti saat lampu merah, setelah lampu hijau roda mobil akan melindas biji-bijian itu sehingga pecah kulit kerasnya. Sungguh menakjubkan...!
Pada jaman kuliah dulu ketika pertama kali lihat lukisan terakhir yang dibuat van gogh sebelum bunuh diri, ada perasaan seram sehubungan ada banyak burung hitam yang menurutku gagak sebagai simbol kematian. Di situ dilukiskan hamparan sawah kuning dengan dipenuhi burung-burung yang menyerupai gagak yang banyak sekali...apalagi ditambah dengan membaca sejarah hidup sang maestro yang tragis.
Persepsiku tentang sangarnya burung gagak sangat dipengaruhi oleh budaya dimana aku hidup. pada jaman dulu jika melihat burung gagak anak kecil harus segera sembunyi karena dikatakan burung gagak itu membawa-bawa nyawa orang yang telah mati. apalagi jika mendengar suaranya yang sangat menyeramkan untuk seorang anak kecil jaman dulu.
Ternyata lain lubuk lain belalang, penilaianku terkoreksi ketika hadir langsung menyaksikan banyaknya burung gagak yang ada di sini walaupun van gogh tidak hidup di Munich tapi paling tidak alam belanda tidak jauh beda. Jadi memang alam yang sebenarnya yang telah dilukis vincent van gogh yang pernah memotong telinganya karena jengkel tidak bisa digambarnya. Selain burung gagak kata kawanku di sini semakin banyak jenis burung yang dulu belum pernah terlihat berkeliaran di sini. Suatu keadaan yang sepertinya mustahil terjadi di Indonesia. Yang terjadi berjenis-jenis burung telah lama punah. Pada waktu masih kecil pun aku jarang sekali melihat burung gagak. Tapi masih beruntung aku masih sempat menyaksikan burung sikatan yang sering mencari makan di kandang-kandang ternak. Sekarang jangan harap lagi untuk bisa menyaksikan gerak lincahnya selain di kebun binatang.
Pada jaman dulu di Eropa orang yang ketahuan berburu tanpa ijin akan dipotong tangannya. dan yang punya ijin biasanya raja dan keluarganya saja...untung sekarang tidak sekejam itu aturannya. Pun masyarakatnya sudah semakin sadar sendiri bahwa burung-burung harus diberi hak hidup bebas. Ketika musim dingin, ketika segala macam makanan yang ada di alam telah habis atau susah didapatkan burung yang tidak ikut imigrasi ke afrika, orang-orang di sini menyediakan makanan burung yang di gantung di luar, biasanya pada ranting-ranting yang telah rontok habis daun-daunnya. Makanan burung itu dapat dibeli di supermarket yang berbentuk bulatan dalam kantong jaring bertali.
Na ja.. sebelum nanti kita di Indonesia semakin kehilangan banyak jenis burung. Sudah waktunya kita mengikuti apa yang dilakukan orang Eropa dengan membiarkan burung hidup dengan bebas.
Jangan lagi ada perburuan!
Sayangi burung sekarang juga!

Wednesday, 25 November 2009

Waspadalah!!

Potensi negatif/jahat selalu akan ada dalam setiap diri manusia yang masih hidup. Karena memang manusia bukan malaikat, yang hanya tahu berbuat baik melulu. Namun hal ini bukanlah sebuah pemakluman atau pembenaran.
Dengan adanya sifat-sifat manusia yang bisa menuju kearah mana saja itu, diperlukan norma yang mengaturnya. Aturan-aturan paling awal secara tak tertulis telah disepakati bersama. Salah satunya adalah menghormati dan tidak mengganggu hak milik orang lain, dengan tidak mengurangi, merusak, meminjam tanpa ijin bahkan tidak mengembalikannya terus-menerus alias mencuri...

Permasalahan hak milik ini menjadi salah satu topik sentral dan merupakan salah satu penyebab gagalnya ideologi komunis. Sekali lagi manusia bukan malaikat..
Dalam segala peradaban perbuatan mencuri merupakan pekerjaan yang sangat memalukan dan tercela. Orang akan merasa sangat malu dan hinanista jika mencuri apalagi kalau perbuatannya diketahui orang lain. Namun seiring dengan perjalanan sejarah manusia, setelah sangsi moral tidak ditakuti lagi maka diberlakukanlah sangsi fisik yang sangat keras, misalnya dengan pemotongan tangan pada setiap pencuri yang tertangkap.
Timbulnya aturan ini sudah tentu diperlukan sebuah lembaga yang mengatur dan menjalankannya. Lembaga yang harus bisa dipercaya oleh semua pihak. Karena dasar manusia bukan malaikat!!..bukan tidak mungkin segala macam aturan itu malah semakin memperumit keadaan. Sangat mungkin terjadi aturan yang bagus disusun dengan mempersempit ruang penyelewengan, tetap saja orang masih bisa mencari celah kelemahannya. 
Berbagai macam perbuatan negatif/jahat manusia hinanista ini dapat terjadi pada siapapun dan di manapun...jika ada kesempatan dan kesempitan pikir manusianya.  Di Jerman pun hal ini dapat juga terjadi apalagi di negara yang kata pengamat ekonomi adalah negara yang termasuk dalam golongan negara dunia pertama!!

Belum lama ini kawan saya telah kehilangan sepeda di kereta api antar kota dari Leipzig menuju Halle. Dikarenakan lantai bawah penuh sesak maka kawan saya itu naik ke lantai atas sementara sepeda tetap di lantai bawah dan tak terkunci (di Jerman ada kereta api yang tingkat tempat duduknya, sebuah inovasi transportasi kota besar untuk menampung lebih banyak penumpang, dulu pernah ada bus tingkat di Solo tapi tidak tahu sekarang!?)..setelah melalui beberapa stasiun untuk menaik-turunkan penumpang sampailah di stasiun Halle, ketika mau turun dari kereta api ternyata sepedanya sudah turun duluan...nggak tahu di stasiun mana... 

Walaupun sekali lagi manusia bukan malaikat!! paling tidak kita yang mengaku sebagai makhluk paling beradab diantara sekalian makhluk hidup penghuni dunia, kita tetap punya pilihan untuk tidak melakukan sesuatu yang merugikan orang lain. Kata Bang Napi di akhir sebuah acara berita kriminal stasiun televisi swasta : WASPADALAH...WASPADALAH!!