Saturday, 1 January 2011

Tulisan telat hari bulan januari tahun masehi 2011 ini!


badan masih lemah tak mampu berdiri
sementara mata mengembara kesana-kemari
padahal sudah tidak pagi lagi
maklum tidur lewat dini hari
ikut perayaan tahun baru masehi
tetap saja kebiasaan mata bangun pagi
tak bisa membohongi diri sendiri

akhirnya juga ke kamar mandi
buang hajat tapi tak gosok gigi
naik ke atas untuk minum kopi
sarapan pagi dengan keju dan roti
rendang, sambal tak lupa nasi
sambil ngobrol sana-sini



lupa waktu telah lewat tengah hari
saatnya kehidupan normal kembali
antar teman ke halte bus 10 menit jalan kaki
sudah ada bis yang hampir pergi
tak biasanya, untung pak sopir baik hati
mundur lagi dan membuka pintu untuk teman kami



kembali seperti sediakala kampung ini
seperti kota mati tak berpenghuni
tak seorang pun yang berpapasan dengan kami
hanya sisa kertas dan jelaga amunisi
tersebar bangkai kembang api
di sana dan di sini
sebuah paradoks krisis ekonomi
berserakan di atas putih salju yang mengotori


ahh..kehidupan di sini
menyala hanya 5 menit kemarin dini hari
huh!

Sunday, 17 October 2010

Delft 1


Delft, sebuah kota tua antara Den Haag dan Rotterdam, sangat indah sekali. Bangunan kecil-kecil antik rapat berderet-deret berdesakan menuju langit, pelukis Jan Vermeer dulu tinggal di kota ini. Yang menarik selain itu adalah kanal-kanal yang mengepung kota, hampir setiap gang dipisahkan oleh kanal-kanal dengan jembatan lengkung artstitik sebagai penghubung. Permukaan air kanal mengalir pelan seperti tak bergerak, sekitar 15-20 cm lebih rendah dari jalan, dan berwarna hijau lumut. Tak terlihat seorang pun sedang memancing, kecuali sepeda-sepeda yang berjejer parkir di pinggiran kanal. Setiap tahun, cerita kawanku, pemerintah kota Delft membersihkan kanal dari sampah..Sepeda!!(yang oleh orang iseng dilemparkan ke dalam kanal).
Walaupun demikian, bahkan ketika musim hujan pun tak pernah terjadi banjir di kota ini!!??
Beberapa jendela rumah yang berada di pinggir kanal terlihat hampir menyentuh permukaan air kanal menjadi bukti kuat dari cerita kawanku tentang tidak ada permasalahan banjir di kota yang sebagian besar adalah area fußgängerzone ini.
Aku mau tak mau harus angkat topi mengagumi teknologi dari bangsa yang sampai beberapa keturunan pernah menguasai tanah air kita. Yang jadi pertanyaan dalam batin ini kemudian:
kenapa ilmu mengatur air ini tidak diwarisi(kan) oleh(pada) orang kota kita, terutama tentu yang sedang pegang kekang kendali...??
sm

Tuesday, 12 October 2010

Frida Kahlo dan Palu Arit (tahap 2)


..akhirnya bergeser sedikit demi sedikit, kami sampai di ujung tangga menuju lantai atas, namun masih juga menunggu penjaga yang sungguh necis perlente memberi isyarat untuk naik tangga dari marmer ke arah kanan, karena yang ke arah kiri menuju ruang pameran yang lain, adalah seniman kontemporer dari Kopenhagen: Olafur Eliasson yang artinya Olafur anaknya Elias, walaupun karyanya lebih up to date pula kontemporeeeer.., pengunjung lebih tertarik untuk melihat pamerannya seniwati dari meksiko, ini terbukti dari tidak ada antrian sebatang pun yang menuju ke arah kiri, ke arah ruang yang memajang karya-karya seniman kontemporer Denmark itu.

Agak lama juga kami berdiri di depan tangga marmer, memperhatikan penjaga yang aktif dengan HT-nya, mungkin sedang brik-brik-an dengan koleganya di pintu keluar untuk memantau jumlah pengunjung yang sudah keluar, sebagai referensi pertimbangan jumlah pengunjung yang boleh menaiki tangga...isyarat itu akhirnya datang juga, aku dan berturut-turut tidak sampai sepuluh orang di belakangku dipersilahkan untuk naik ke atas, kemudian lagi-lagi masih antri juga di atas undak-undakan, yang karenanya membelok sepanjang dinding ruangan, kami bisa melihat antrian di lantai bawah, yang tetap saja seperti tak ada ujungnya, padahal jam besuk pameran terbatas, cuma sampai jam 8 malam. Sedangkan kami pun belum memasuki ruangan, tanda waktu sudah jam 3 sore lebih!! bisa dibayangkan betapa pendeknya kesempatan untuk melahap seluruh hidangan karya dengan sepenuh jiwa.

Mendekat ke arah pintu masuk...di sebelah kiri terdapat stand penjaga, yang menyediakan alat mirip remote control, lebih besar dari pisang ambon, terdapat tombol-tombol dan speaker, gunanya untuk memperdengarkan informasi terkait. Baru kali ini aku melihat alat yang seperti itu karena biasanya terdapat earphone-nya, tapi yang ini kita harus menempelkan alat itu ke telinga, mirip sedang menelepon seseorang, namun tak halo-halo..
Di depan lobang masuk ruang pameran, yang tampak gelap dari luar, terdapat dua orang penjaga, laki dan perempuan yang sudah tua, aku menduga mereka bukan sekedar penjaga biasa melainkan petugas yang sangat berkompeten dan sudah berpengalaman bertahun-tahun pula telah tercerahkan ratusan bahkan ribuan karya seni yang singgah di Gedung Martin Gropius ini. Dua penjaga itu dengan sopan dan elegan mengamati pengunjung yang sedang berdiri antri, grapyak menyapa antrian paling depan, matanya tetap awas kalau-kalau ada yang membawa sesuatu yang dilarang ke dalam ruang pamer. Waktu itu ada pengunjung yang kedapatan membawa tas ransel. Penjaga yang sudah tua tadi menyuruh perempuan itu turun lagi untuk menitipkan tasnya di Garderobe lantai dasar. Masih untung dia tetap diberi urutan antrian yang sama ketika datang lagi sambil menenteng isi tas ranselnya tadi..Laptop. Kemungkinan seorang jurnalist atau mahasiswa yang dapat tugas menulis tentang sebuah pameran, karena begitu masuk ruang pameran, jari-jarinya langsung bekerja memencet-mencet tuts huruf di keyboard laptopnya.

Kami pun masuk....
cahaya remang-remang menyambut, lampu spot diarahkan ke lembaran-lembaran kertas putih di dinding, berisi penjelasan, kronologi juga curicullum vitae sang seniwati dalam dua bahasa: deutsch dan english. Suasana hening, semua sibuk membaca dalam hati, kalaupun ada yang berbicara pasti bisik-bisik mirip di ruang perpustakaan yang sebenarnya. Aku pun ikut-ikutan membaca, dengan mengerutkan kening kukerahkan aji level grundstufe ke empat...lumayan, lebih dari 50 % kira-kira bisa ku mengerti tulisan yang banyak sekali ..sch-nya itu.

Frida Kahlo dilahirkan tanggal 6 juli 1907 di Coyoacan, Meksiko city, yang kemudian olehnya sendiri tahun kelahirannya digeser ke tahun 1910, tepat dengan tahun revolusi Meksiko!
Leluhur dari garis ayah berasal dari pengembara Jahudi Hongaria yang menetap di daerah Baden Baden, Jerman. Kakeknya, Jakob Heinrich Kahlo lahir 1819 di Frankfurt, menikah dengan Henriette Kaufmann dari Pforzheim. Wilhelm bapaknya Frida merupakan anak ke tiga pasangan itu, berturut-turut Herminie, Marie, Wilhelm, ketika melahirkan anak ke empat: Carolina, Henriette neneknya Frida meninggal dunia pada usia 38 tahun! Rupanya sang kakek tak tahan sendirian, dikelilingi anak yang masih kecil-kecil, akhirnya tiga tahun kemudian dia kawin lagi dengan ludowika Rahm. Besar kemungkinan inilah yang menyebabkan Wilhelm muda, 18th, melalui pelabuhan Hamburg bertolak merantau ke Meksiko dan tak pernah kembali lagi ke Jerman sampai ajalnya.
Di Meksiko nama Wilhelm disesuaikan dengan bahasa spanyol menjadi Guillermo. Umur 22 tahun Guillermo menikah dengan Maria Cardena, namun 4 tahun kemudian istrinya meninggal dunia, meninggalkan 2 anak. Tak lama pula keluarga baru dibangunnya bersama Matilde Calderon anak seorang photografer. Dari istri yang kedua inilah lahir anak ke tiga yang berjudul: Magdalena Carmen Frieda Kahlo Y Calderon. Ketika Frida lahir itu bapaknya sudah terkenal sebagai fotografer seni, yang berarti bukan sembarang tukang foto.
Ketika Kahlo tua yang di jerman meninggal dunia, terjadi keributan soal warisan, kendati demikian Guillermo tetap memperoleh bagian wajib yang minimum, dipakainya lah uang warisan itu untuk membangun sebuah rumah di Coyoacan, yang oleh Frida kemudian dindingnya dicat warna biru indigo untuk melawan roh-roh jahat!! Semenjak itu terkenal dengan sebutan Casa Azul-Rumah Biru dan sekarang jadi Museum Frida Kahlo.

Beranjak ke ruangan berikutnya, dipajang foto-foto yang merunut para leluhur seniwati, foto kakek-neneknya, masa kecil, dewasa dan saat-saat terakhir sebelum kematiannya. Foto-foto yang tergantung memenuhi ruangan itu, katanya baru pertama kali ini dipublikasikan secara komplet dalam sebuah pameran. Sangat beruntung Eropa memiliki kelembaban udara yang bersahabat dengan material terlebih bahan kertas yang ringkih di alam tropika, sehingga peninggalan karya fotografi sebelum perang dunia I masih sangat terawat.

Selanjutnya kami memasuki ruangan yang memajang karya-karya sang seniwati yang mengundang decak kagum, dimulai dengan lukis potret dirinya.
Seperti telah anda semua ketahui, Frida mengalami kecelakaan maut pada umur 18 tahun, yang mengharuskannya tetap berada di atas tempat tidur dalam jangka waktu yang lama, karena tulang belakangnya remuk sehingga perlu dipasang batang platina sebagai penyangga dan memakai korset dari Gips! Untuk mengusir kejenuhan, ayahnya memberi peralatan melukis, yang kemudian menjadi jalan hidupnya. Lukisan telah menjadi alasan yang serius pada diri Frida untuk bertahan hidup!!.
Terlampau banyak juga tulisanku nanti walaupun hanya menyebut satu persatu judul karya yang dipajang, sekitar 150 karya, jadi ku langsung menuju ruang berikutnya yang berisi karya-karya yang bertema surealis, tidak mengherankan juga pengaruh surealisme sangat kuat karena memang ketika Frida anjangsana ke eropa, tepatnya di kota Paris dia berteman akrab dengan tokoh-tokoh surealisme, macam Andre Breton, Max Ernst, Paul Eluard, Joan Miro, Yves Tanguy dan Wolfgang Paalen. Sebuah lingkungan yang sangat mendukung kelanjutan karir kesenimanan tentu saja, apalagi masih terdapat deretan nama tersohor lain yang berada di lingkungan itu, seperti Picasso, kandinsky dst. Ketika di paris, Frida menghibahkan satu karyanya untuk museum louvre, yang pertama kali seniman dari meksiko.
Ruangan berikutnya memajang karya-karya sketsa, yang menurutku sebagai periode bingung, antara belajar gambar bentuk dan abstrak, namun begitu tetaplah karya yang sangat penting untuk melihat sejarah perjalanan seorang yang terkenal dengan sebutan Popstar des Schmerzen.
Ruangan berikutnya memajang koleksi benda-benda milik Frida, seperti Baju adat meksiko yang telah dimodifikasi sedemikian rupa olehnya sendiri, dan yang menarik pula patut diceritakan adalah korset dari bahan gips yang telah menyangga tubuhnya selama proses penyembuhan tulang belakang.
Bagi anda yang telah menonton film Frida yang diperankan Salma Hayek, tentu masih ingat ketika pacarnya pamitan mau ke Eropa dalam jangka waktu tak terbatas, Frida menggambari korset gipsnya dengan gambar kupu-kupu.. tak lebih, ketika aku melihat korset Gips yang sebenarnya di ruang pamer ini, berdesir jantung ini tandanya aku lahir dari jaman orde baru. Tepat di tengah-tengah bagian dada adalah gambar Palu Arit berwarna merah yang telah sedikit pudar.
Gambar palu dan arit yang merupakan simbol persatuan buruh dan petani, sejatinya telah dipakai sejak meletusnya revolusi Bolshevik 1917, namun baru tahun 1922 secara resmi dipakai sebagai lambang partai komunis. Di tanah air gambar ini merupakan sebuah aib, barang siapa ketahuan mempunyai atau menyimpannya akan segera berurusan dengan yang berwajib! lebih ngeri lagi jika ketahuan yang tidak berwajib alias yang partikelir. Sampai sebegitu paranoidnya sebagian masyarakat kita bahkan menganggap gambar Palu dan Arit adalah lambang dari alat-alat yang dipakai untuk menyiksa para jendral dan penentang PKI..hiii..ngeriiii...
Benar juga ucapan A.H. Nasution, Seorang Jendral yang selamat dari penculikan gerakan 30 september, peristiwa yang masih tetap berselimut kabut sampai sekarang, dalam sebuah film, yang dulu ketika aku masih dalam masa pertumbuhan adalah tontonan wajib setiap tahun di TVRI, bahwa: Fitnah lebih kejam dari pembunuhan! yang apabila dibalik: Pembunuhan tidak lebih kejam daripada fitnah!!! ...wah yang ini lebih ngeriiii lagi....
ok deh... daripada bulu kuduk semakin tegak berdiri, aku sudahi dulu tulisan ini.

Mungkin akan bersambung....
sm




Wednesday, 22 September 2010

Frida Kahlo dan Palu Arit (tahap 1)


Pagi itu di ibukota Jerman dinginnya minta ampun padahal sudah memasuki musim panas, ditambah hujan gerimis yang semakin bikin malas untuk aktivitas. Tapi kami memutuskan untuk tetap jalan-jalan karena waktu berkunjung di kota ini terbatas jadi harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Setelah sarapan roti dan kopi wajib, sambil pegang peta yang semakin lama kucel sobek berlobang di bagian lipatan sebagai petunjuk jalan.
Seperti di Ibukota negara lainnya, di Berlin banyak sekali pameran seni rupa. Mengunjungi pameran senirupa adalah suatu hal wajib bagiku apalagi ditunjang dengan cuaca yang galau dingin gerimis meresahkan, orang jerman bilang Saukalt!!(ibunya babi dingin artinya).
Dari berbagai alternatif akhirnya pilihan jatuh ke pamerannya Frida Kahlo, seniman perempuan dari Meksiko, istrinya kamerad Diego Rivera. Dengan pertimbangan kalau mengunjungi museum nasional lain kali juga bisa karena permanen tapi pameran almarhum Frida Kahlo ini hanya temporer yang telah susah payah mengumpulkan koleksi karyanya yang tersebar dari berbagai museum atau perorangan dari berbagai negara...mungkin, jadi mumpung ada kesempatan jadi wajib ngain hukumnya!
Akhirnya sampai juga di halte S-Bahn yang menurut peta butut kami dekat dengan lokasi pameran. Ternyata benar tapi kami datang dari arah belakang gedung pameran yang melewati parkiran mobil berderet rapat, setelah membelok ke samping kanan gedung menuju pintu depan...ya ampun antriannya buk!! ..sekitar 50 meter dari pintu masuk!!mungkin lebih juga karena aku hanya kira2 aja, habis nggak bawa meteran..
Rupa-rupanya gara-gara cuaca yang jelek seperti ibunya babi itu orang mengalihkan tujuan darma wisatanya ke dalam gedung yang hangat alias nonton pameran. Atau aku bisa juga salah paham karena ini menjadi bukti kalau mendiang Frida Kahlo ini memang seniman perempuan paling terkenal saat ini, jadi wajar kalau mau lihat karyanya aja harus antri..
Kami langsung ikut masuk berjejer dalam barisan yang hampir tidak bergerak!menyusul kemudian sudah banyak yang mengekor di belakangku. Lamaaa.. sekali tunggu di luar hampir 2 jam penuh dalam suasana basah dan kedinginan, selama tunggu kadang aku bergantian dengan pacarku untuk lihat sudah atau masih sejauh mana pintu masuk berada. Sampai-sampai 20 meter dari pintu masuk ada yang berjualan kopi dan roti hangat untuk mengusir dingin dan kejenuhan. Alhasil tempat sampah kecil di pinggir jalan tidak muat lagi, orang dengan terpaksa meletakkan begitu saja sampahnya didekat atau mencoba membuat konfigurasi setinggi mungkin di atas tempat sampah yang telah overload.
Hampir saja kami urungkan niat untuk pergi ke tempat lain karena pertimbangan efektifitas waktu tinggal kami di kota ini. Sudah lewat tengah hari belum dapat sesuatu, namun akhirnya kami bertahan karena untuk melihat dengan mata kepala sendiri karya-karya nyonya Rivera ini setelah sekian lama hanya mengenalnya lewat reproduksi dalam buku.
Akhirnya sampai juga di pintu masuk yang aturannya mirip yang terjadi di Jogja Gallery kalau ada pembukaan pameran karena penonton yang buanyak, jadi pengunjung baru bisa masuk kalau ada pengunjung yang keluar dari gedung setelah selesai mengapresiasi dengan khitmad karya-karya seniman yang dipajang, tentu saja ada perbedaan yaitu budaya antri orang-orangnya!! kalau di Jogja Gallery siapa kuat mendorong untuk merangsek ke depan pintu dialah yang dapat nominasi pengunjung berikutnya.
Setelah berhasil mencapai loket yang berada di lobi gedung, kemudian beli tiket masuk.. ternyata kami masih harus tunggu lagi dan berjejer rapat melingkar selama sampai 1,5 jam!!
Apa boleh buat tiket sudah ditangan, kami sudah tidak berpikiran lagi banyaknya waktu yang terbuang untuk berdiri menunggu. Bergiliran kami jaga antrian untuk pergi ke toilet, maklum udara dingin pinginnya ke belakang melulu.
Nah ya.. perjalanan perjuanganku menuju ruang pameran mbak Frida Kahlo ini terlalu banyak menyita ruang tulisan, biar tidak terlalu panjang jadi perjalanan di dalam ruang pameran aku lanjutkan di halaman berikutnya..
sm

Sunday, 5 September 2010

karya awal dari M.C. Escher


karya periode awal, originally uploaded by Sri Maryanto.

Aku suka sekali dengan karya ini, kenapa?
Dengan melihat karya ini aku jadi lebih sadar bahwa setiap awalan adalah periode yang paling berat, penting dan menentukan untuk melangkah lebih jauh dalam segala hal!
Pegrafis dari Belanda ini terkenal dengan karya-karyanya yang super detail, mathematis juga optical. Sangat sedikit seniman yang bisa menandingi kejelian dalam mengulik detail disertai dengan perhitungan ilusi matematika, bahkan mungkin belum ada.
Dengan teknologi mutakhir karya-karya almarhum pegrafis yang arsitek ini akan mudah dikerjakan, tapi mengingat pada jamannya tidak secanggih sekarang, kembali kecanggihan manusianya yang utama.
Kembali ke karya yang satu ini, sangat kelihatan mendiang muda belum fasih berkarya tapi berusaha semaksimal mungkin sesuai kemampuannya sebagai seniman pemula, kemudian jika mengingat karya-karya periode setelah ini kita akan berdecak kagum dibuatnya. M.C. Escher muda tetap bertahan dengan begitu telatennya terus menghidupi keseniannya sampai pada puncak capaian yang susah dilampaui lagi oleh orang lain.
Sekali lagi sebuah awalan adalah penting untuk dikerjakan, apapun hasilnya, setelah itu kosistensi yang bicara..
Banyak orang yang tidak berani mengawali sesuatu, seribu satu alasan dijadikan sebagai pembenaran dari rasa takutnya, sementara sedikit orang telah berhasil selangkah lebih maju dan maju..
Setelah diberi napas, manusia adalah sebuah titik yang punya sudut pilihan 360 derajat..
So... selamat menikmati karya ini....
sm

Friday, 3 September 2010

Piknik ke Bonbin


Jika cuaca bagus, nggak ada kerjaan, bosan di rumah, keputusan terakhir adalah piknik/picknik. Ramalan cuaca mengabarkan hari itu die Temperatur akan bersahabat alias hangat!!
Selama ini aku belum pernah mengunjungi kebun binatang di München, alangkah senang hati ini akhirnya tiba waktunya akan melihat dengan mata kepala sendiri binatang yang hampir mustahil untuk dilihat di tanah air, misalnya pinguin dan beruang kutub yang besar berwarna putih lembut.
Kebun binatang München adalah kebun binatang yang pertama kali di dunia yang mengklasifikasikan binatang koleksinya sesuai dengan benua asal.
Singkat kata, sampai juga ke lokasi Bonbin di pinggir sungai Isar, setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam. Terik kering hari itu, ideal suhunya, hingga tidak heran melihat 2 antrian yang menjulur sampai keluar pagar dari loket yang buka.
Bonbin adalah tempat yang pas bukan hanya untuk rekreasi seluruh keluarga tetapi juga untuk tempat kencan pasangan muda yang baru memupuk tanaman cinta.
Sangat berbeda!!..kesan pertamaku ketika baru mau masuk lokasi kebun binatang jika membandingkan dengan gembira loka di jogja atau ragunan, Jakarta!
..di sini tidak ada kios atau warung-warung makan sebagai sambutan selamat datang!, terlebih lagi nihil pedagang asongan pernak-pernik cinderamata yang selalu agresif menawarkan dagangannya, juga tidak ada tukang foto seperti di Ragunan yang asal potret pengunjung yang baru masuk terus mencetaknya kemudian menawarkan hasil jepretannya ketika pengunjung yang dipotret tadi melewati stand daruratnya ketika mau jalan pulang.
Di Bonbin sini loket pembelian tiket berdampingan langsung dengan pintu masuk, jadi begitu selesai bayar, dapat tiket dan flyer atau brosur yang memuat peta dan segala peraturan selama mengunjungi Bonbin pengunjung langsung bisa masuk tanpa ada petugas lain pemeriksa karcis selain kasir itu sendiri.
Setelah masuk, lokasi yang pertama yang menyambut adalah kandang kambing!!
ada berbagai macam jenis kambing yang hidup di sini tentunya yang jinak jenisnya dibiarkan berkeliaran bebas di kebun, pengunjung bisa masuk memegang, membelai, mengelus-elus ataupun memberinya makan, yang bisa dibeli dari kotak pakan otomatis yang telah disediakan.
Perjalanan berlanjut, begitu memasuki rumah kaca yang di dalamnya berisi binatang dan tanaman dari benua tropis, rasanya seperti pulang kampung...panas dan lembab!!
Di situ aku melihat ada pohon pisang, pepaya, kapuk randu, beringin dan teman-temannya, dan binatang khas tropika yang bebas seperti burung-burung, kalong, ayam kampung dan binatang remeh temeh lainnya yang tidak diperhatikan ketika berada di daerah asalnya atau malah dianggap pengganggu seperti tikus dan semut-semut juga belalang!!untuk yang 3 terakhir ini dibuatkan kandang kaca. Bagi orang sini binatang tropis selalu menarik karena tidak bisa setiap hari ketemu kecuali di kebun binatang.
Yang cukup membanggakanku mungkin juga pembaca yang budiman..kebun binatang München menamakan tempat yang khusus untuk berbagai jenis kera dan binatang tropis yang harus dikandang secara khusus dengan nama Orang Utan Paradies!!
Namun yang membikin trenyuh bahwa sebagian besar pengunjung telah bisa dengan benar fasih mengucapkan kata Orang Utan tapi mereka tidak tahu bahwa itu adalah bahasa Indonesia. Orang utan begitu terkenal sebagai binatang yang mutlak harus dilihat kalau mengunjungi kebun binatang. Sekedar catatan, terdapat sebuah iklan pariwisata Malaysia yang berilustrasikan gambar Orang Utan berupa sticker yang menempel membungkus bagian luar berbagai alat transportasi yang melayani penduduk kota München...


Thursday, 2 September 2010

Sommer yang gagal!!


Menurut data musim panas tahun ini di negara bagian Bayern cuma kebagian 650 jam sinar matahari, jauh berbeda dengan sommer tahun-tahun sebelumnya, meskipun ada sebuah hari yang dinobatkan menjadi hari terpanas sepanjang sejarah pencatatan suhu di Jerman!!
Sekarang orang mulai kecut memandangi daun-daun yang mulai kehilangan klorofilnya...tanda musim gugur telah sedang menyapa dengan lirih tapi pasti. Selanjutnya telah siap-siap menunggu untuk dijemput dari bilik paling belakang ujung lemari, perlengkapan untuk menangkal hawa dingin yang merisaukan nyali...
Di penghujung musim panas ini ada sebuah kata menarik yang paling gampang diingat oleh siapa saja kalau jalan-jalan di pusat kota München, adalah Schlussverkauft!! alias sale atau obral akhir musim. Sepanjang pertokoan berilustrasi plakat sale!!% Schlussverkauft!! Warna merah kuning fontnya sangat menyolok sekali melambai-lambai menarik perhatian. Semua toko berlomba membuang habis stock busana musim yang akan pergi.
Yang menarik juga suasananya jadi mirip obral lebaran yang sekarang terjadi di republik atau malah lebih kental karena sejauh mata memandang selalu ada rombongan turis negeri jazirah Arab entah negara bagian mana, yang pasti mereka telah tersohor gila belanja akhir musim panas di München!!(bahkan kabarnya sampai berkontainer!)
Sekedar catatan, hari ini cuaca cerah sekali makanya pesawat tempur giat berlatih, bikin pekak telinga!, suhu cukup hangat sampai 21 derajat, begitu matahari pamitan suhu drop sampai 6 celcius!!

sm